Bagikan:

JAKARTA – CEO NIO William Li, menilai industri otomotif China kini telah melewati masa keemasannya. Menurutnya, penurunan penjualan kendaraan di pasar domestik, perlambatan pertumbuhan kendaraan listrik (EV), serta persaingan yang semakin sengit menjadi tantangan utama bagi industri otomotif di negara tersebut.

Saat berbicara kepada wartawan, Li menegaskan bahwa NIO masih memprioritaskan pasar domestik. Walaupun, membludaknya pemain baru dan strategi harga agresif yang membuat kompetisi semakin ketat.

“Fokus utama kami adalah China,” kata Li saat ditanya mengenai rencana ekspansi global perusahaan, seperti dikutip dari Tekedia, Selasa, 2 Juni.

NIO mulai mengekspor kendaraan pada 2021 dengan Norwegia sebagai pasar pertama. Namun, volume pengiriman ke luar negeri masih relatif kecil dibandingkan total penjualannya.

Li menilai China tetap menjadi pasar paling efisien untuk investasi kendaraan listrik murni, sementara membangun skala bisnis serupa di negara lain membutuhkan waktu lebih lama dan tantangan yang lebih besar. Ia juga menyebut kendaraan hybrid plug-in dan mobil bermesin pembakaran internal masih lebih relevan untuk banyak pasar global saat ini.

Sebagai produsen yang dikenal lewat teknologi penggantian baterai (battery swapping), NIO hingga kini hanya memasarkan kendaraan listrik murni. Untuk memperkuat daya saing, perusahaan mengandalkan pengembangan sistem bantuan pengemudi canggih (ADAS), perangkat lunak milik sendiri, serta perluasan lini produknya.

Li mengungkapkan NIO akan meningkatkan investasi sumber daya komputasi untuk pengembangan teknologi pengemudian cerdas hingga lima kali lipat pada tahun ini dibandingkan 2025. Langkah tersebut menunjukkan pentingnya peran perangkat lunak dan kemampuan otonom di tengah semakin seragamnya teknologi perangkat keras di industri otomotif.

Persaingan di pasar kendaraan listrik China memang semakin memanas dalam beberapa tahun terakhir. Setelah lama menikmati dukungan pemerintah melalui subsidi, pembangunan infrastruktur, dan kebijakan industri, pasar kini dibanjiri berbagai merek baru yang didukung pemerintah daerah, perusahaan teknologi, maupun produsen otomotif konvensional.

Kondisi tersebut memicu kelebihan pasokan kendaraan dan perang harga yang agresif. Para analis menilai banyak pemain baru rela mengeluarkan biaya besar demi merebut pangsa pasar, sehingga menekan margin keuntungan perusahaan-perusahaan yang sudah lebih dulu mapan, termasuk NIO.

Akibatnya, industri menjadi semakin terfragmentasi dan kompetitif, di mana hanya merek dengan keunggulan teknologi serta pengalaman pelanggan yang kuat yang berpotensi bertahan dalam jangka panjang.

Data industri menunjukkan penjualan mobil secara keseluruhan di China diperkirakan stagnan sepanjang 2026. Sementara itu, pertumbuhan kendaraan listrik dan hybrid plug-in yang selama ini menjadi motor utama ekspansi industri diprediksi melambat setelah bertahun-tahun mencatat pertumbuhan dua digit.

Pada April lalu, penjualan mobil domestik tercatat turun selama tujuh bulan berturut-turut, meski ekspor masih menunjukkan kinerja positif.

Li menilai tingkat kepemilikan kendaraan di China yang telah mencapai sekitar 370 juta unit menjadi salah satu indikator bahwa pasar telah memasuki fase jenuh.

“Ini bukan lagi pasar yang berkembang, melainkan pasar yang jenuh,” ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, peluncuran model unggulan menjadi semakin penting untuk mempertahankan pangsa pasar dan profitabilitas. NIO baru saja memperkenalkan SUV mewah andalannya, ES9, yang diharapkan mampu memperkuat posisi perusahaan di segmen premium dengan margin keuntungan lebih tinggi.

Respons investor terhadap pandangan Li justru cukup positif. Saham NIO yang diperdagangkan di Bursa Hong Kong melonjak 10,5 persen menjadi HK$46,08 pada Kamis, mencatat kenaikan harian terbesar sejak 11 Maret.

Kenaikan tersebut mengindikasikan bahwa pasar melihat pernyataan Li sebagai langkah realistis dan strategis dalam menghadapi perubahan industri. Secara keseluruhan, sektor otomotif China masih dibayangi tingginya persediaan kendaraan, persaingan harga yang ketat, serta perubahan preferensi konsumen yang semakin mengutamakan nilai dan fitur.

Meski ekspor menjadi penopang penting, lemahnya permintaan domestik tetap menjadi tantangan utama bagi sebagian besar produsen. Pandangan Li juga mencerminkan perubahan ekspektasi di kalangan pelaku industri kendaraan listrik.

Fase pertumbuhan pesat kini mulai bergeser menuju era yang lebih matang, kompetitif, dan berpotensi memicu konsolidasi di antara para pemain. Dalam beberapa tahun ke depan, keberhasilan investasi NIO pada teknologi penggantian baterai, ADAS, dan pengalaman pelanggan premium akan menjadi faktor penting yang menentukan posisinya di pasar otomotif China yang terus berkembang.