Bagikan:

JAKARTA – Sebuah laporan terbaru dari grup layanan profesional EY (Ernst & Young) pada hari Selasa menunjukkan adanya pergeseran signifikan dalam preferensi pembeli mobil global. 

Konsumen di seluruh dunia dilaporkan kembali memilih kendaraan bermesin pembakaran internal (Internal Combustion Engine/ICE) di tengah perubahan kebijakan, perang dagang, dan meningkatnya skeptisisme terhadap infrastruktur dan biaya kendaraan listrik (EV).

Perubahan ini didorong oleh sejumlah faktor, termasuk pembalikan kebijakan yang bertujuan meringankan penjualan mobil bertenaga bensin. 

Diketahui, di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump pekan lalu mengusulkan pemotongan standar penghematan bahan bakar yang telah diselesaikan oleh pendahulunya. Sementara itu, Uni Eropa juga mungkin segera meluncurkan versi yang lebih lunak dari rencana penghentian mesin pembakaran pada tahun 2035.

Pemimpin Ernst & Young Constantin M. Gall, menyatakan bahwa perubahan kebijakan ini merupakan respons terhadap transisi EV yang lebih lambat dari perkiraan. Ia menambahkan bahwa di China meskipun pembeli membeli lebih banyak EV, ketertarikan mereka lebih tertuju pada integrasi gaya hidup digital mobil, bukan pada bagaimana mobil tersebut ditenagai.

Dilansir dari Reuters, Kamis, 11 Desember, laporan EY memaparkan angka-angka yang mendukung tren ini:

  • Setengah dari pembeli mobil global berencana membeli mobil bermesin pembakaran baru atau bekas dalam 24 bulan ke depan, sebuah lonjakan 13 poin persentase dari tahun 2024.
  • Preferensi terhadap mobil listrik baterai (BEV) telah turun 10 poin persentase menjadi 14 persen.
  • Preferensi untuk mobil hibrida turun 5 poin persentase menjadi 16 persen.
  • Di antara calon pembeli EV, 36 persen sedang mempertimbangkan kembali atau menunda pembelian mereka karena perkembangan geopolitik.

Perang Dagang dan Persaingan Global

Meskipun para pembuat mobil menyambut baik pelonggaran kebijakan bahan bakar fosil sebagai penyelamat industri, kelompok transportasi listrik berargumen bahwa transisi EV yang cepat sangat diperlukan untuk membatasi emisi CO2.

Saat ini, para pembuat kebijakan Barat telah memberlakukan langkah-langkah seperti tarif impor untuk melindungi pasar mereka dari ancaman EV yang disubsidi besar-besaran oleh Tiongkok. Namun, pembuat mobil AS dan Eropa kini juga menghadapi persaingan ketat dari kendaraan bertenaga bensin China di pasar global.