JAKARTA – Toyota memutuskan untuk memperpanjang siklus pembaruan besar pada model-modelnya menjadi sekitar sembilan tahun. Kebijakan baru ini membuat masa hidup desain mobil Toyota jauh lebih panjang.
Ini berbeda jika dibandingkan pola sebelumnya yang berkisar empat hingga lima tahun, lalu meningkat menjadi sekitar tujuh tahun pada era 2000-an. Langkah tersebut diambil karena Toyota ingin lebih mengoptimalkan pembaruan software atau perangkat lunak.
Pabrikan asal Jepang ini enggan terus-menerus melakukan perubahan besar pada desain eksterior maupun struktur kendaraan. Perusahaan menilai pembaruan software yang rutin dapat memberikan peningkatan performa, fitur bantuan mengemudi, hingga fungsi tambahan lain yang dapat diaktifkan melalui sistem berlangganan.
BACA JUGA:
Dilansir dari Carscoops, Rabu, 19 November, keputusan memperpanjang siklus produk dinilai membawa sejumlah keuntungan. Stabilitas pasokan dapat meningkat, sementara konsumen memiliki waktu lebih panjang untuk mendapatkan varian tertentu yang mereka incar.
Selain itu, siklus yang lebih lama memungkinkan nilai jual kembali kendaraan tetap lebih stabil berkat depresiasi yang cenderung melambat. Meski demikian, rencana ini tidak sepenuhnya diterima tanpa catatan.
Sebagian dari ratusan dealer independen Toyota di Jepang menyampaikan kekhawatiran mengenai rencana perubahan skema harga grosir yang lebih fleksibel. Mereka menilai margin penjualan dapat tertekan bila penyesuaian harga tidak mengikuti pola waktu seperti sebelumnya.
Toyota menegaskan bahwa harga grosir rata-rata akan tetap stabil sepanjang periode sembilan tahun tersebut. Dengan porsi inovasi yang semakin bergeser ke pembaruan software, Toyota mengikuti arah baru industri otomotif.