Bagikan:

JAKARTA – Pabrikan mobil mewah asal Inggris, Aston Martin, tengah menghadapi masa sulit setelah pada Senin ini, 6 Oktober, memberikan informasi soal prospek keuangannya. Perusahaan memproyeksikan kerugian tahunan yang jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya, membuat harga sahamnya langsung anjlok hingga 11 persen di pasar.

Dikutip dari Reuters, Aston Martin kini memperkirakan kerugian tahunan akan melampaui 110 juta poundsterling atau sekitar lebih Rp2,4 triliun. Angka ini menjadi pukulan berat bagi perusahaan yang sebelumnya berharap bisa mencapai titik impas dalam laba operasional yang disesuaikan.

Manajemen Aston Martin menjelaskan, pelemahan ini dipicu oleh sejumlah faktor. Permintaan pasar menurun di wilayah utama seperti Amerika Utara dan Asia Pasifik, sementara sistem kuota tarif ekspor yang diterapkan Amerika Serikat terhadap Inggris disebut sangat mengganggu dan menyulitkan perencanaan keuangan perusahaan. Di sisi lain, perubahan kebijakan pajak untuk mobil ultra-mewah di China turut menekan penjualan global. Situasi semakin rumit akibat gangguan rantai pasok pasca serangan siber terhadap mitra besar mereka, Jaguar Land Rover.

Ketidakpastian juga terlihat pada sisi produksi dan pengiriman. Aston Martin memangkas proyeksi volume pengiriman untuk 2025, dengan estimasi penurunan di kisaran persentase satu digit menengah hingga tinggi. Pada kuartal ketiga tahun ini, perusahaan hanya mampu mengirimkan sekitar 1.430 unit mobil secara grosir, turun dari 1.641 unit pada periode yang sama tahun lalu.

Masalah serupa juga terjadi pada proyek hypercar Valhalla. Pengiriman model tersebut yang awalnya dijadwalkan pada kuartal keempat harus tertunda. Sekitar 150 unit yang diharapkan siap dikirim tidak dapat direalisasikan tepat waktu karena kendala teknis pada tahap rekayasa dan proses persetujuan regulasi.

Sebagai langkah penyesuaian, Aston Martin memutuskan untuk memangkas rencana belanja modalnya dan tidak lagi memperkirakan akan mencatat arus kas bebas positif pada paruh kedua tahun ini. Di tengah tekanan global yang kian berat, perusahaan kini berharap dukungan dari pemerintah Inggris untuk membantu produsen mobil bervolume kecil agar tetap bertahan di tengah kondisi perdagangan internasional yang tidak menentu.