Bagikan:

JAKARTA – Jaguar Land Rover (JLR) memastikan bahwa serangan siber pada 1 September lalu berdampak pada sejumlah data internal perusahaan. Insiden tersebut juga melumpuhkan operasi JLR secara global dan menghentikan produksi mobil Land Rover sejak saat itu.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis di laman pabrikan pada 10 September, JLR menyebutkan bahwa mereka telah bekerja sama dengan pihak kepolisian dan para ahli keamanan siber untuk memulihkan sistem internal mereka. Selama proses investigasi forensik, ditemukan bahwa "beberapa data" telah terpengaruh. JLR berjanji akan menghubungi pihak-pihak yang datanya terkena dampak, mengindikasikan bahwa data tersebut mungkin berhubungan dengan pelanggan dan berpotensi dicuri.

"Sebagai hasil dari investigasi yang sedang berlangsung, kami sekarang yakin bahwa beberapa data telah terpengaruh dan kami sedang menginformasikan regulator terkait," kata seorang juru bicara JLR mengatakan kepada media, dikutip dari Autocar, Kamis, 10 September.

Juru bicara tersebut juga menambahkan bahwa investigasi terus berlanjut dan mereka akan menghubungi individu yang datanya terdampak.

Serangan siber ini menyebabkan kerugian finansial yang diperkirakan mencapai jutaan poundsterling karena produksi mobil terhenti. Selain itu, operasional lain seperti penjualan di diler, penyerahan mobil, dan pemesanan suku cadang juga terganggu. Meskipun demikian, diler JLR dilaporkan tetap beroperasi dan mencatat penjualan secara manual.

Sementara itu, mayoritas pekerja di fasilitas produksi JLR di West Midlands, Merseyside, Slovakia, dan India diberitahu untuk tidak kembali bekerja. Para pekerja tetap mendapatkan bayaran dan akan diinformasikan setiap hari mengenai perkembangan situasi.

Hingga saat ini, belum ada perkiraan pasti kapan sistem akan pulih sepenuhnya. Meskipun situs web publik JLR terlihat normal, fitur untuk konfigurasi mobil tidak berfungsi dan mengarahkan pembeli untuk membeli dari stok yang tersedia.