JAKARTA - Kabar kurang bagus kembali melanda Nissan. Produsen otomotif dari Jepang ini dikabarkan telah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sebanyak 10 ribu pekerja di seluruh dunia.
Dilaporkan oleh media Jepang NHK yang ditulis Reuters, Selasa, 13 Mei, langkah tersebut harus diambil demi membuat bisnis pabrikan menjadi lebih ramping dan kuat setelah permintaan kendaraan melemah di dua pasar terbesarnya, yakni China maupun Amerika Serikat (AS).
Jumlah 10 ribu pekerja tersebut menambah jumlah daftar PHK pegawai Nissan menjadi 20 ribu orang atau 15 persen dari keseluruhan tenaga kerjanya.
Pabrikan yang bermarkas di Yokohama, Jepang ini kehilangan tajinya dalam segmen hybrid di AS, di mana pasar elektrifikasi sedang bertumbuh.
Selain itu, Nissan juga berencana akan meluncurkan 10 model baru untuk pasar China dalam beberapa tahun mendatang demi mengembalikan tren positif di salah satu pasar terbesarnya.
BACA JUGA:
CEO Nissan, Ivan Espinosa mengatakan sedang merestrukturisasi operasi Nissan dan sebelumnya mengatakan perusahaan sedang mempertimbangkan langkah-langkah tambahan.
Sebelumnya, Nissan telah memiliki 133 ribu pekerja hingga Maret tahun lalu. Namun, pabrikan mengumumkan memangkas hingga 9 ribu stafnya dan mengurangi kapasitas globalnya sebesar 20 persen pada November 2024.
Langkah lainnya dilakukan oleh Nissan adalah menutup pabriknya di Thailand di bulan Juni mendatang bersamaan dengan dua fasilitas lainnya yang belum disebutkan lokasinya.
Belum lama ini, Nissan juga mengonfirmasi membatalkan rencana pembangunan pabrik senilai 1,1 miliar dolar AS, yang akan menerima subsidi pemerintah, untuk baterai kendaraan listrik di pulau Kyushu, Jepang.
Pemerintah Jepang sendiri sebelumnya telah mengalokasikan subsidi hingga 55.7 miliar yen untuk proyek pabrik baterai ini. Pabrik yang direncanakan memiliki kapasitas produksi tahunan sebesar 5 gigawatt-jam ini diharapkan mulai beroperasi pada Juli 2028 atau setelahnya.