Bagikan:

JAKARTA – Pabrikan otomotif global, Nissan tampaknya menghadapi tantangan signifikan dalam rencana produksi model kendaraan listrik (EV) terbarunya, Nissan Leaf.

Laporan menunjukkan bahwa kekurangan bahan baku material langka, yang sebagian besar bersumber dari China jadi penyebab utama pembatasan produksi ini. Situasi ini menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi Nissan di tengah restrukturisasi besar-besaran dan penurunan penjualan EV global.

Menurut laporan Reuters yang diteruskan Car and Driver, dikutip Senin, 14 Juli, pembatasan ekspor material langka oleh China telah menciptakan hambatan pasokan yang serius. Kondisi ini berdampak langsung pada rencana produksi Leaf terbaru yang seharusnya diluncurkan untuk model tahun 2026. Padahal, Nissan Leaf terbaru, yang dirancang sebagai crossover kecil dengan perkiraan jangkauan hingga 487 kilometer dan harga mulai sekitar 30 ribu dolar AS (sekitar Rp487 juta), diharapkan menjadi penawaran EV yang terjangkau.

Juru bicara Nissan telah mengonfirmasi bahwa proyek Leaf terbaru berjalan sesuai jadwal untuk peluncuran yang direncanakan. Penjualan di Amerika Serikat diperkirakan dimulai pada musim gugur 2025, dengan pengiriman di Jepang dalam tahun ini dan di Eropa sekitar musim semi 2026. Namun, mereka tidak memberikan komentar langsung mengenai laporan tentang pembatasan produksi, menyebutnya sebagai "laporan spekulatif."

Meskipun demikian, isu kekurangan material langka ini bukan satu-satunya tantangan. Di Amerika Serikat, penghapusan program potongan harga federal untuk EV tentu akan mendinginkan penjualan. Secara global, kekurangan material langka ini akan memengaruhi produksi di pasar Jepang dan Eropa. Bahkan, Nissan telah memulai pembicaraan pensiun dini sukarela dengan para pekerja di pabrik di Inggris tempat Leaf akan diproduksi.

Kondisi ini muncul di tengah ambisi Nissan untuk mengurangi 15 persen tenaga kerjanya dan menutup tujuh pabrik sebagai bagian dari upaya restrukturisasi. Situasi keuangan perusahaan saat ini cukup rapuh, dan melambatnya penjualan EV tentu tidak akan membantu. Selain itu, ada juga penundaan 10 bulan untuk dua model EV yang direncanakan akan dibangun di pabrik Nissan di Canton, Mississippi, Amerika Serikat.