JAKARTA - Tahun 2024 lalu, tak semua pabrikan otomotif global khususnya yang memproduksi mobil listrik mendapatkan keuntungan signifikan. Bahkan banyak yang terjun bebas alias merugi. Jika dilihat dari data penjualan global tahun lalu, produsen otomotif China jauh mengungguli para pesaing.
Pabrikan otomotif ternama dari Amerika Serikat (AS), Ford dikabarkan sedang mengembangkan mobil berpenggerak range-extender (EREV) sebagai opsi dalam menghadirkan kendaraan ramah lingkungan dengan harga lebih terjangkau dan jangkauan lebih luas.
Langkah ini diambil karena merek melihat ketidakpastian dari pasar EV murni secara global pada tahun lalu.
CEO Ford Motor Company, Jim Farley mengonfirmasi pihaknya sedang mengembangkan platform SUV dan pikap yang dirancang dengan penggerak tersebut dan tidak menyebutkan detail lebih lanjutnya.
“Kami sangat terkesan karena pelanggan menganggap kendaraan ini sebagai kendaraan listrik,” kata Farley dikutip dari Autocar, Jumat, 7 Februari.
BACA JUGA:
Farley memberikan contoh teknologi yang dikembangkan oleh perusahaan asal China, Li Auto. Pabrikan ini diketahui telah menciptakan pasar besar SUV premium di rumah sendiri berdasarkan teknologi EREV.
“Mereka tidak menganggapnya sebagai hybrid atau plug-in hybrid (PHEV) dan menggunakan 95 persen milnya sebagai listrik dan mengecasnya pad amalam hari,” tambah Farley.
Sistem EREV memiliki kemiripan dengan hybrid karena memiliki mesin pembakaran internal dan baterai listrik. Namun, mesin ICE hanya digunakan sebagai daya tambahan dalam mengisi baterai dan menggerakkan motor listrik.
Karena baterai diisi dengan membakar bahan bakar saat mengemudi, tidak diperlukan pengisi daya terpisah. Selain itu, jarak berkendara hingga 1.000 km atau dua kali lipat dari EV saat ini.
Ford bakal memakai langkah serupa seperti pesaingnya, yakni Stellantis. Perusahaan multinasional tersebut mempertimbangkan opsi EREV pada kendaraan bermerek Jeep.