JAKARTA - Pada akhir tahun lalu, industri otomotif global dikejutkan dengan langkah merger antara Nissan dan Honda bersama Mitsubishi Motors dalam bisnis melalui pembentukan joint holding company.
Langkah tersebut harus diambil oleh pabrikan demi menghadapi pasar otomotif yang tidak menentu dan menghindari Nissan dari masa keterpurukan yang telah menghampirinya dalam beberapa waktu terakhir. Namun, ada kabar mengejutkan lainnya dari kemitraan ini.
Melansir dari Reuters, Sabtu, 25 Januari, menurut tiga sumber yang tidak disebutkan namanya ini mengatakan bahwa Mitsubishi berencana untuk tidak turut andil dalam rencana merger tersebut. Tetapi, pabrikan ini tetap terdaftar sambil melanjutkan hubungan kerja sama dengan kedua merek tersebut.
Kabar ini tentu cukup mengejutkan mengingat Nissan merupakan pemegang saham terbesar Mitsubishi sebesar 24 persen. Keputusan akhir mengenai hal tersebut direncanakan akan diumumkan pada bulan ini.
Disebutkan penyebab Mitsubishi enggan bergabung dalam kemitraan ini karena adanya kekhawatiran bahwa hal tersebut akan sulit mempengaruhi keputusan manajemen perusahaan induk. Hal ini terjadi karena ukuran kepemilikan saham yang relatif kecil.
Dengan demikian, ini berpotensi membuat pabrikan berlogo ‘tiga berlian’ ini tidak bisa leluasa dalam mengembangkan pasar sesuai keinginannya sehingga mempertahankan strukturnya untuk memperluas pasarnya di beberapa wilayah.
BACA JUGA:
Dalam sebuah pernyataan, Mitsubishi Motors mengatakan ada laporan media tentang rencana mereka untuk berpartisipasi dalam kerangka integrasi bisnis yang sedang dipertimbangkan Honda dan Nissan, namun laporan tersebut tidak berdasarkan informasi yang diumumkan oleh perusahaan.
Saat ditanya mengenai laporan yang beredar sekaligus merujuk pada pernyataan Mitsubishi Motor, juru bicara Nissan dan Honda enggan memberikan komentar lebih jauh.
Sebelumnya, kesepakatan merger ini telah dibangun oleh Nissan dan Honda pada 1 Agustus lalu, yang menandakan dimulainya kemitraan strategis untuk membentuk perusahaan patungan yang fokus pada elektrifikasi ditambah dengan Mitsubishi yang turut bergabung dalam kerja sama tersebut.