Bagikan:

SOLO - Tim nasional sepak bola cerebral palsy Indonesia siap bersaing dengan enam tim dari tujuh negara dalam ajang IFCPF Asia-Oceania Cup 2025 di Kota Solo mulai Minggu, 16 November 2025 hingga Sabtu, 22 November 2025. Persaingan itu jelas tidak mudah bagi Indonesia karena hanya dua tim finalis yang lolos ke Piala Dunia 2026.

Indonesia bersaing dengan tim unggulan Iran, Australia, Jepang, Korea Selatan maupun sesama tim Asia Tenggara, Malaysia dan Thailand untuk menjadi yang terbaik di kawasan Asia-Oseania.

Mereka siap memperebutkan dua tiket lolos otomatis ke Piala Dunia Sepak Bola Cerebral Palsy atau IFCPF World Cup 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat.

Hanya bukan perkara mudah bagi tuan rumah untuk mengukir prestasi yang digelar di Stadion Sriwedari dan Stadion UNS yang menjadi venue utama pertandingan.

Sedangkan Lapangan Kota Barat hanya menjadi venue latihan. Apalagi, peringkat Indonesia masih jauh di bawah Iran yang berstatus juara bertahan IFCPF World Cup 2024. Begitu pula Australia yang menjadi lawan pertama Indonesia di Grup A memiliki ranking 12 dunia.

Iran sendiri menjadi unggulan utama dalam ajang ini. Mereka berada di Grup B bersama Korea Selatan, Malaysia dan Thailand. Sementara Australia merupakan unggulan kedua dan menempati Grup A. Australia tidak hanya bersaing dengan tuan rumah Indonesia tetapi juga Jepang.

Pelatih timnas Indonesia, Yanuar Dhuma Ardiyanto menyatakan kesiapan tim asuhannya menghadapi kejuaraan ini. Meski menargetkan masuk posisi empat besar, namun Yanuar siap bersaing untuk memperebutkan tiket ke Piala Dunia.

Menurut dia Yahya Hernanda dkk. sudah melakukan persiapan mandiri sejak bulan Agustus dan melakukan pemusatan latihan di Kota Solo dari awal Oktober.

"Australia jelas merupakan tim yang kuat. Para pemainnya punya banyak pengalaman di sepak bola cerebral palsy. Mereka sudah mengikuti event ini lebih lama dari Indonesia dan sering bertanding di top level,” kata Yanuar dalam keterangan pers di Solo, Jumat, 14 November 2025.

“Tetapi kami sudah siap mengikuti kejuaraan ini. Kami juga sudah punya strategi untuk mengantisipasi permainan Australia, terutama menghadapi pemain-pemain berpostur tinggi," ujar Yanuar yang mempersiapkan tim untuk berlaga di ASEAN Para Games 2025 di Thailand.

Sementara, Australia yang lebih diunggulkan tetap tidak meremehkan Indonesia. Meski memiliki peringkat dunia jauh lebih tinggi, pelatih Australia, Kai Lammert menuturkan bila hal itu tidak berpengaruh di pertandingan.

Lammert pun sudah mempersiapkan tim menghadapi tuan rumah dengan menganalisis permainan Indonesia dari beberapa video saat tampil di ajang ASEAN Para Games.

"Ranking bukan hal penting dalam event ini karena dibutuhkan beberapa tahun untuk melatih sebuah tim. Saya sudah melihat dalam beberapa video bahwa Indonesia telah melakukan hal-hal yang spektakuler," ujar Lammert.

"Saya menaruh respek terhadap Indonesia. Jadi kita lihat hasil akhir dari pertandingan ini," kata Lammert yang mengaku senang kejuaraan ini diselenggarakan di Indonesia karena tim asuhannya tak perlu menempuh perjalanan yang jauh ke Eropa atau Amerika Serikat. Pasalnya kejuaraan sepak bola cerebral palsy lebih sering digelar di dua benua tersebut.

“Saya senang Indonesia yang menjadi tuan rumah. Selama ini, pemain saya selalu melakukan perjalanan yang jauh karena bertanding di Eropa atau Amerika Serikat,” ucap dia.

Menanggapi penyelenggaraan kejuaraan se-Asia dan Oseania ini, Rima Ferdianto selaku Ketua Organizing Committee Indonesia IFCPF Asia-Oceania Cup 2025, mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) atas dukungannya agar Indonesia bisa menjadi tuan rumah kejuaraan.

"Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kemenpora, terutama Bapak Erick Thohir sebagai Menpora yang baru, karena sudah memfasilitasi semua yang dibutuhkan untuk menggelar kejuaraan ini," ucap Rima.

“Kita berharap semua pertandingan bisa berjalan dengan lancar, semua kontingen mendapatkan kesan positif selama bertanding di Indonesia dan tentu kita sebagai warga negara berharap Indonesia bisa berprestasi dengan maksimal," katanya.

Menurut Rima kejuaraan ini menjadi babak kualifikasi memperebutkan dua tiket ke Piala Dunia.

IFCPF selaku federasi sepak bola cerebral palsy dunia memastikan ajang ini sudah siap digelar di Stadion Sriwedari Solo dan Stadion UNS Solo. Chief Executive Officer (CEO) IFCPF, Ashley Hammond, optimistis Indonesia bisa sukses dalam menggelar ajang ini.

"Ajang ini menjadi event ketiga yang kita lakukan tahun ini. Sebelumnya kita telah menggelar European Championship di Inggris serta Copa America di Uruguay, dan kini yang ketiga di Indonesia. Kami berekspektasi bahwa kejuaraan di Indonesia akan berjalan dengan maksimal," kata Hammond.