Bagikan:

JAKARTA - Cremonese kehilangan kiper tim nasional Indonesia Emil Audero Mulyadi yang mengalami cedera. Tanpa Audero, Cremonese babak-belur dihajar Inter Milan dan kalah 4-1 di pertandingan Serie A Italia di Stadion Giuseppe Meazza, Sabtu, 4 Oktober 2025 malam WIB.

Tim promosi Cremonese merupakan lawan yang bisa menghambat laju Inter. Pencapaian mereka memang cukup mengesankan dan menjadi salah satu tim dari Serie B, selain Sassuolo yang bisa masuk papan tengah.

Hanya saja, Cremonese yang kehilangan kiper Audero gagal mengimbangi Inter yang langsung bermain ofensif sejak awal pertandingan. Kiper Indonesia yang dipinjam dari Como 1907 ini memang merupakan pilar pertahanan terakhir Cremonese.

Namun cedera betis yang membuat Audero juga gagal memperkuat tim Garuda di kualifikasi Piala Dunia 2026 menjadikan Marco Silvestri yang berdiri di bawah mistar.

Hasilnya, Silvestri kemasukan gol hingga empat kali. Bahkan tuan rumah sudah membobol gawang lawan saat pertandingan baru berjalan enam menit. Gol dari kapten Lautaro Martinez menjadikan Inter kian percaya diri menghabisi tamunya.

Sebaliknya, gol cepat itu langsung meruntuhkan moral pemain Cremonese. Mereka tak mampu bangkit dan berada dalam tekanan. Tim asuhan Davide Nicola ini akhirnya harus mengakui keunggulan Inter dengan skor mencolok 4-1.

Kemenangan atas Cremonese menjadikan Inter terus merangsek ke papan atas. Kini, I Nerazzurri naik ke peringkat empat dengan poin 12.

Sama dengan AC Milan, Napoli dan AS Roma yang menduduki peringkat pertama hingga tiga. Namun mereka berpeluang menjauh dari kejaran Inter bila mengalahkan lawan-lawannya.

Cremonese sendiri tertahan di peringkat sembilan dengan poin sembilan. Menariknya poin mereka sama dengan dua tim ‘Indonesia’, Sassuolo yang memiliki kapten timnas Jay Idzes dan Como. Hanya Cremonese kalah selisih gol sehingga posisi mereka di bawah dua tim tersebut.

Dalam duel itu, Inter bermain ofensif yang memaksa Cremonese bekerja keras memperkuat pertahanan. Namun mereka tak mampu membendung serangan pasukan Cristian Chivu. Pertandingan baru berjalan enam menit, Martinez sudah membobol gawang Silvestri. Dirinya berhasil menyelesaikan assist dari Ange-Yoan Bonny.

Unggul 1-0 menjadikan Inter kian agresif menekan lawan. Terbukti hanya berselang enam menit, gelandang Federico Dimarco memperbesar keunggulan tim. Namun gol dia dianulir wasit yang meninjau kejadian itu lewat VAR. Hasilnya, Dimarco dalam posisi offside sehingga gol dia dibatalkan.

Meski demikian, Inter tak menyerah. Tuan rumah nyaris memperbesar keunggulan saat gelandang Henrikh Mkhitaryan mendapat peluang bagus. Sayangnya peluang dia secara gemilang digagalkan Silvestri.

Namun sang kiper gagal menahan serangan dari Bonny saat sundulannya yang menyambut umpan silang Dimarco menembus gawang Cremonese di menit 38. Skor berubah 2-0 untuk Inter dan bertahan hingga babak pertama usai.

Di babak kedua, Inter tak menurunkan tempo permainan. Mereka mengambil inisiatif menyerang dan tak membiarkan Cremonese mengembangkan permainan.

Hasilnya, Inter mampu memantapkan keunggulan di menit 55. Kali ini, Dimarco yang melepaskan tendangan first time saat menyambut sepak pojok. Dirinya mengubah skor menjadi 3-0 yang membuat Cremonese kian sulit mengejar ketinggalannya.

Inter terus melaju. Hanya berselang dua menit, giliran Nicolo Barella yang memantapkan keunggulan Inter. Lagi-lagi, Bonny yang memberi assist untuk dituntaskan Barella.

Setelah tertinggal 4-0, Cremonese berusaha tidak kebobolan lagi. Silvestri harus bekerja keras melakukan penyelamatan gemilang untuk menghentikan serangan tuan rumah.

Cremonese pun akhirnya hanya bisa memperkecil ketinggalan. Mantan striker timnas Inggris Jamie Vardy dalam penampilannya yang kedua bersama Cremonese membantu terciptanya gol tim tamu setelah assist dia dituntaskan Federico Bonazzoli.

Gol tercipta di menit 87 yang mengubah skor menjadi 4-1. Skor itu bertahan hingga laga usai.

Kemenangan besar ini menjadikan Barella puas karena tim berhasil menunjukkan konsistensi dan selalu memetik kemenangan sejak terakhir kali kalah 4-3 lawan Juventus di Derby d’Italia.

“Kami akhirnya menemukan kembali mekanisme permainan yang sempat hilang di beberapa pertandingan sebelumnya,” kata Barella.

Pemain timnas Italia ini berkata lebih lanjut, “Bila ingin bermain seperti itu, Anda memang harus dalam kondisi terbaik dan kami mampu mencapainya. Ini menjadikan kami unggul dalam penguasaan bola dan bisa menikmati pertandingan.”