YOGYAKARTA - COVID-19 dan Hantavirus merupakan dua jenis penyakit yang sama-sama disebabkan oleh infeksi virus. Kedua penyakit ini sempat menjadi perhatian dunia karena dapat menimbulkan gangguan kesehatan serius dan bahkan menyebabkan kematian. Namun, meskipun sama-sama berasal dari virus, terdapat perbedaan COVID-19 dan Hantavirus, mulai dari penyebab, cara penularan, gejala, hingga tingkat penyebarannya.
Saat pandemi COVID-19 melanda dunia, muncul berbagai informasi mengenai Hantavirus yang membuat sebagian masyarakat merasa khawatir. Banyak orang mengira Hantavirus akan menjadi pandemi baru seperti COVID-19. Padahal, kedua penyakit ini memiliki karakteristik yang berbeda. Memahami perbedaan antara COVID-19 dan Hantavirus penting agar masyarakat tidak mudah termakan informasi yang salah serta dapat mengetahui cara pencegahan yang tepat.
Perbedaan Covid-19 dan Hantavirus
Perbedaan COVID-19 dan Hantavirus yaitu senagai berikut:
Asal-usul
Melansir dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), COVID-19 adalah penyakit akibat infeksi virus SARS-CoV-2 yang pertama kali teridentifikasi di Wuhan pada akhir tahun 2019 dan pertama kali menyebar secara global pada 2020 lalu kemudian menjadi pandemi. Virus ini menyerang sistem pernapasan manusia dan dapat menyebar dengan sangat cepat dari satu orang ke orang lain.
Sementara itu, Hantavirus bukan virus baru. Hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik yang sudah lama dikenal dan dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa Hantavirus biasanya menular melalui paparan urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi. Seseorang dapat tertular ketika menghirup partikel udara yang terkontaminasi virus dari kotoran tikus kering.
Penelitian terkait hantavirus di Indonesia sebenarnya sudah pernah ditemukan sejak lama. Studi Kosasih dan kolega tahun 2011 di jurnal Vector-Borne and Zoonotic Diseases melaporkan adanya infeksi virus Seoul, salah satu jenis Hantavirus, pada manusia dan tikus di Jawa Barat.
Selain itu, COVID-19 disebabkan oleh virus dari keluarga coronavirus, sedangkan Hantavirus berasal dari keluarga Hantaviridae. Kedua virus tersebut memiliki struktur dan karakteristik biologis yang berbeda sehingga cara penanganannya juga tidak sama.
BACA JUGA:
Penularan
Perbedaan terbesar COVID-19 dan hantavirus ada pada cara penyebarannya. Penularan COVID-19 sangat mudah menular antarmanusia dan umumnya terjadi melalui partikel pernapasan saat seseorang batuk, bersin, berbicara, bernapas, atau kontak dekat dengan orang yang terinfeksi. Virus dapat menyebar cepat di rumah, kantor, sekolah, transportasi umum, hingga ruangan tertutup dengan ventilasi buruk.
COVID-19 berkembang menjadi pandemi global dan menyebar ke hampir seluruh negara di dunia karena penularannya sangat mudah. Aktivitas sehari-hari seperti berjabat tangan, berada di keramaian, atau menyentuh benda yang terkontaminasi dapat meningkatkan risiko penularan jika tidak disertai protokol kesehatan yang baik.
Sementara itu, Hantavirus umumnya tidak menyebar melalui interaksi sehari-hari antarmanusia. Penularan paling sering terjadi ketika seseorang menghirup debu yang terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi, misalnya saat membersihkan gudang, rumah kosong, atau area tertutup yang banyak jejak tikus. Mengutip European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC), ada jenis tertentu seperti Hantavirus Andes yang dalam kasus langka dapat menular antarmanusia melalui kontak dekat berkepanjangan.
Hantavirus tidak mudah menular antar manusia. Sebagian besar kasus hantavirus terjadi akibat paparan lingkungan yang kotor atau banyak terdapat tikus. Oleh karena itu, penyebarannya jauh lebih terbatas dibanding COVID-19 yang dapat menyebar cepat melalui interaksi manusia sehari-hari.
Gejala
COVID-19 dan Hantavirus memang bisa terlihat mirip karena sama-sama menimbulkan gejala seperti flu pada tahap awal. COVID-19 dapat menyebabkan demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri tubuh, hingga hilang penciuman. Gejalanya bisa ringan sampai berat tergantung kondisi tubuh dan infeksi yang terjadi.
Sementara itu, Hantavirus biasanya dimulai dengan demam, lemas, nyeri otot, sakit kepala, menggigil, mual, muntah, hingga nyeri perut. Namun pada fase lanjut, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dapat berkembang menjadi sesak napas berat karena paru-paru terisi cairan dan berpotensi fatal.
Masa Inkubasi
Gejala COVID-19 umumnya muncul lebih cepat setelah paparan. CDC menyebut gejala bisa muncul sekitar 2-14 hari setelah terinfeksi. Sementara itu pada Hantavirus, gejala dapat muncul lebih lambat, bahkan 1-8 minggu setelah seseorang terpapar lingkungan yang terkontaminasi tikus. Oleh karena itu, pasien kadang tidak langsung menyadari bahwa gejala yang muncul berkaitan dengan aktivitas beberapa minggu sebelumnya.
Pencegahan
Langkah pencegahan kedua penyakit ini juga berbeda. COVID-19 lebih difokuskan pada pencegahan penularan antarmanusia, seperti:
- Vaksinasi;
- Memakai masker pada situasi berisiko;
- Menjaga ventilasi;
- Mencuci tangan; dan
- Menghindari kontak dekat saat sakit.
Pencegahan Hantavirus lebih fokus pada mengurangi paparan tikus dan lingkungannya. WHO menyarankan beberapa langkah seperti:
- Menutup celah masuk tikus;
- Menyimpan makanan dengan rapat;
- Membersihkan kotoran tikus dengan disinfektan;
- Memakai sarung tangan atau masker saat membersihkan area berisiko; dan
- Menghindari menyapu kering kotoran tikus agar debu tidak beterbangan.
COVID-19 dan Hantavirus merupakan dua penyakit yang sama-sama disebabkan oleh virus, tetapi memiliki banyak perbedaan mendasar. Pentingnya memahami perbedaan COVID-19 dan Hantavirus bertujuan agar masyarakat dapat lebih bijak dalam menerima informasi kesehatan dan mengetahui langkah pencegahan yang tepat. Edukasi yang benar sangat penting agar masyarakat tidak mudah panik serta dapat menjaga kesehatan diri dan lingkungan dengan lebih baik.
Semoga bermanfaat. Kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.