JAKARTA - Manajer Ajax, Francesco Farioli, mengatakan dia tidak menyesal meski timnya finis sebagai runner-up pada Eredivisie 2024/2025 yang menjadi salah satu kegagalan perebutan gelar terbesar dalam sejarah.
Ajax mengakhiri rentetan tanpa kemenangan mereka dengan kemenangan kandang 2-0 melawan FC Twente pada Minggu, 18 Mei 2025. Hanya saja, hasil itu tidak cukup untuk menghentikan rival mereka, PSV Eindhoven, yang menang 3-1 melawan Sparta Rotterdam dan akhirnya menjadi juara Eredivisie.
Hasil itu membuat Ajax mencatat rekor yang tidak diinginkan dalam sejarah sepak bola Eropa--tidak pernah ada tim yang gagal menjuarai liga saat memiliki keunggulan sembilan poin dengan lima pertandingan tersisa.
Farioli pun tampak emosional setelahnya dalam konferensi pers pascapertandingan dan harus berhenti beberapa kali untuk menenangkan diri saat dia mencoba memahami emosi yang kontras tentang bagaimana musim ini berlangsung.
BACA JUGA:
"Ini pelajaran yang sangat sulit untuk dipelajari dan memang begitulah adanya. Saya tidak menyesal."
"Saya pandai melihat badai sebelum datang, itu salah satu kualitas utama saya. Saya selalu menghindari membicarakan sesuatu jauh sebelum terjadi. Saya tahu siapa kami," kata Farioli.
Farioli tiba di Ajax pada Juni 2024 dan mengambil alih tim setelah mereka finis di peringkat kelima pada musim 2023/2024. Mereka jelas difavoritkan untuk mengamankan gelar Eredivisie ke-37 dengan keunggulan besar itu menuju lima pertandingan terakhir musim ini.
Namun, nyatanya mereka hanya meraih dua poin dari empat pertandingan berikutnya, yang membuat PSV bisa mengambil alih puncak klasemen.
"Mari kita mulai memberi selamat kepada PSV. Mereka benar-benar pantas berada di tempat kami, di tempat mereka sekarang."
"Kami berusaha sebaik mungkin untuk bersaing. Kami memberikan semua yang kami mampu. Saya sangat berterima kasih kepada sekelompok pemain ini yang membuat kami bermimpi."
"Sebelas bulan yang lalu, dindingnya putih dan tidak memiliki banyak kehidupan. Kami minta dicat ulang dan diberi beberapa warna di sana."
"Hari ini sulit untuk memahami apa yang ada di dalam, tetapi dalam beberapa minggu semuanya akan menjadi sedikit lebih jelas," tutur Farioli.
Farioli tidak akan berkomitmen untuk masa depannya di Ajax. Kontraknya masih tersisa dua tahun, tetapi telah dikaitkan dengan pekerjaan di Serie A.
"Hari ini adalah tentang kelompok pemain ini (Ajax). Tidak akan ada diskusi tentang apa pun yang mengambil alih," ujar Farioli ketika ditanya tentang masa depannya.
Farioli berkata dia bangga dengan para pemain karena mereka finis kedua di Eredivisie 2024/2025 dan mendorong PSV begitu dekat.
Meski demikian, suasana ruang ganti penuh dengan kesedihan.
"Emosi, banyak emosi, seperti yang bisa Anda bayangkan. Ada kesedihan dan itu memberi perspektif tentang apa yang telah kami lakukan."
"Sebelas bulan lalu, saat kami menggelar konferensi pers pertama untuk merasakan bahwa kami bisa tiba di pertandingan terakhir musim ini dan bersaing dengan tim yang unggul 30 poin dari kami, itu akan luar biasa."
"Jika kami menonton dengan pikiran yang jernih, ini adalah musim yang hebat. Setahun lalu, Ajax mengalami beberapa kesulitan dan hari ini sekelompok pemain ini mengembalikan kepercayaan diri," ujar Farioli lagi.
Farioli tampak emosional saat berjalan di sekitar Johan Cruyff Arena setelah pertandingan berakhir.
Ia mengatakan bahwa itu adalah emosi dari seorang manusia dan seseorang yang mencoba memberikan semua yang dimiliki dengan cinta dan dedikasi.
"Saya merasa dengan semua orang bersama saya, staf dan pemain, tidak ada lagi yang bisa kami berikan. Hari ini saya merasa tangki kosong."
"Saya meminta para pemain untuk memberikan segalanya di lapangan. Kami mencoba segalanya dan terkadang semuanya tidak cukup," kata sang pelatih.
Ajax dan PSV harus bertarung hingga laga terakhir Eredivisie musim ini untuk menjadi juara. Mereka hanya berselisih satu poin di klasemen pada laga pemungkas liga.