JAKARTA - AC Milan berada di bawah tekanan saat menghadapi final Coppa Italia melawan Bologna di Stadion Olimpico, Roma, Kamis, 15 Mei 2025 dini hari WIB. Coppa Italia juga menjadi harapan terakhir pelatih Sergio Conceicao setelah Milan melakoni musim mengecewakan.
Conceicao tak menjadikan pembelaan kedatangannya ke Milan di tengah kompetisi sebagai kegagalan. Apalagi, pelatih asal Portuga yang menggantikan kompatriotnya Paulo Fonseca langsung memberi trofi Supercoppa Italia bagi Milan. Lebih dari itu, Milan sukses mengalahkan rival satu kota, Inter Milan, di laga final.
Conceicao seperti dinaungi keberuntungan setiap kali bertemu Inter yang pernah dibelanya saat menjadi pemain. Pada laga semifinal Coppa Italia, Milan bermain imbang 1-1 dalam Derby della Madonnina. Selanjutnya, pada laga kedua dan Inter bertindak sebagai tuan rumah, Rossoneri sukses membantai sang tetangga dengan skor telak 3-0.
Kemenangan yang sangat berarti karena Inter tengah on fire. Mereka melaju ke final Liga Champions dan bersaing ketat dengan Napoli memperebutkan Scudetto.
Hanya Conceicao tetap berada di bawah tekanan meski membawa Milan ke final Coppa Italia. Pencapaian buruk Tijjani Reijnders dkk di kompetisi Serie A Italia menjadikan kinerja eks pelatih Porto ini dalam sorotan. Saat ini Milan tertahan di posisi delapan dengan poin 60.
Ini yang menjadikan Conceicao berada dalam tekanan. Namun bila mampu merengkuh Coppa Italia, paling tidak Milan kembali berlaga di kompetisi Eropa dengan mengikuti Liga Europa.
"Sangat menyenangan bila kami berhasil memenangi trofi ini dan memberi kepuasan kepada fans setelah menjalani musim yang sulit. Kami sudah tidak sabar dan sungguh menikmati bermain di final," kata Conceicao.
"Bila ada tekanan, itu adalah bagian dari sejarah Milan. Itu hal yang wajar bagi sebuah klub besar. Kami hanya fokus dan siap untuk pertandingan final," ucap Conceicao yang pernah meraih sukses saat bermain di Lazio yang bermarkas di Olimpico.
Dia turut membawa Lazio memenangi Scudetto yang mematahkan dominasi Juventus dan Milan. Conceicao juga meraih berbagai trofi bersama Lazio, termasuk UEFA Super Cup dan Piala Winners sekarang Liga Europa.
"Stadion [Olimpico] sudah memberi banyak kepuasan dan suka cita saat saya sebagai pemain. Tetapi itu adalah masa lalu. Kini, kami akan memberikan yang terbaik saat menghadapi tim yang selalu bertarung habis-habisan seolah itu adalah laga terakhir mereka," kata dia lagi.
Milan sesungguhnya sedikit diunggulkan. Apalagi akhir pekan lalu, kedua tim bertemu di kompetisi domestik. Hasilnya, Milan menang 3-1. Namun hal itu tak menjadi patokan bagi Conceicao.
"Hasil yang bagus dan membuat kami lebih percaya diri. Selain itu, saya memiliki tim yang sangat bagus dan dalam kondisi terbaik," ucapnya.
Milan sendiri sudah lama tak pernah memenangi Coppa Italia. Mereka terakhir kali merengkuh trofi itu pada 2003 saat masih ditangani Carlo Ancelotti.
Laga Emosional Bologna
Namun Bologna tidak kalah lama tak mengangkat Coppa Italia. Bologna menjadi juara untuk terakhir kali pada 1974. Ini berarti lebih dari setengah abad Rossoblu tak pernah lagi memenanginya.
"Ini akan menjadi laga yang sangat emosional. Setelah bertahun-tahun, kini kami punya kesempatan memberi kado sebuah pertandingan penting bagi seluruh masyarakat kota ini," kata pelatih Bologna Vincenzo Italiano.
BACA JUGA:
"Anda bisa merasakan bagaimana antusias dan kegairahan dari kota ini menyambut laga tersebut. Begitu wasit membunyikan peluit, Anda akan merasakan bagaimana laparnya 30.000 suporter di stadion membawa pulang trofi itu," ujarnya.
Italiano memastikan tim bakal bertarung habis-habisan demi mencetak sejarah. Apalagi bila mereka mampu mengalahkan tim bersejarah itu.