JAKARTA - Belum genap seminggu sejak dirilisnya album “Berusaha di Bawah Hujan”, Brigitta Sriulina Meliala alias Idgitaf, meraih capaian besar di platform streaming musik.
Dalam laporan terbaru Spotify, album penuh kedua Idgitaf itu masuk dalam jajaran Top Album Debut Global—berada di posisi kesembilan.
“Berusaha di Bawah Hujan” bersanding dengan tiga album baru Drake yang dirilis sekaligus, “Iceman”, “Maid of Honour”, dan “Habibti”.
Selain itu, ada nama-nama lain seperti Lucki dengan album “Dr*gs R Bad”, Jul dengan “Oubliez-Moi”, Maluma dengan “Loco X Volver”, Tayc dengan “Joya”, Ikkimel dengan “Poppstar”, serta Famous Pluto dengan “Street Therapist”.
Adapun, “Berusaha di Bawah Hujan” menandai babak baru dalam perjalanan musik Idgitaf. Album ini menjadi ruang kontemplasi, setelah sebelumnya sukses memikat industri lewat album debut “Mengudara” pada 2023 silam.
Melalui album teranyar, Gita—sapaan akrabnya—membawa kejutan segar dengan menyuntikkan elemen musik country yang berpadu selaras dengan karakter pop yang selama ini melekat padanya.
Berbeda dengan karya-karya sebelumnya yang banyak menyoroti isu kesehatan mental serta penerimaan diri, materi dalam album baru disusun bak cerita bersambung yang merangkum 12 lagu tentang pendewasaan dan dinamika hubungan romantis.
“Album ini lahir dari pengalaman jatuh cinta yang terasa begitu baru buat aku, sampai rasanya kata-kata saja tidak cukup untuk menjelaskan semuanya. Karena itu aku merasa harus menuliskannya lewat musik,” kata Gita dalam keterangannya, Kamis, 21 Mei.
BACA JUGA:
“Tapi di balik itu, ada tantangan, perbedaan, dan proses memahami satu sama lain yang membuat aku sadar kalau cinta bukan cuma tentang kebahagiaan, tapi juga tentang bertahan,” sambungnya.
Dalam melahirkan repertoar baru, Gita berkolaborasi dengan sederet produser, di antaranya Enrico Octaviano, Lafa Pratomo, Michael Rodovan, Ricco, Rama Harto, dan Luthfi Adianto.
Tidak hanya itu, ia juga menggandeng Baskara Putra (Hindia) untuk berduet dalam lagu "Masih Ada Cahaya" serta Dere dalam trek "Setengah Langit".
Sentuhan kolaboratif dalam album juga memberikan dimensi yang lebih tebal pada pesan yang ingin disampaikan. Pada lagu "Masih Ada Cahaya" yang dinyanyikan bersama Hindia, aransemen musiknya menggambarkan upaya tulus seseorang untuk menerima dan memahami masa lalu dari pasangannya.
“Aku ingin punya lagu yang merepresentasikan aku dan pasanganku, sebagai lelaki dan perempuan. Di lagu ini aku seperti berbicara dan menenangkan dia, ‘Masih ada cahaya, walau susah untuk diraih,’” tutur Gita.
Sementara untuk lagu "Setengah Langit" yang ia tulis bersama Dere, fokus narasinya bergeser pada sebuah refleksi kolektif mengenai bagaimana persepsi perempuan terhadap kebahagiaan sering kali terdistorsi oleh standar yang diciptakan oleh lingkungan sosial.
Gita menyebut trek ini seperti medium untuk berbicara dan berkaca pada diri mereka sendiri sebagai sesama perempuan yang kerap mengkategorikan kebahagiaan dari apa yang ditentukan oleh orang lain.
“Album ini mengisahkan sebuah journey, a work in progress. Bukan untuk memberikan jawaban, tapi menjadi teman seperjalanan. Aku ingin orang-orang melihat bahwa album ini adalah tentang berusaha, dan pendengar bisa merasa relate dengan berbagai perasaan di dalamnya; mulai dari bahagia, sedih, sampai frustasi. Semoga album ini juga bisa memberikan gambaran tentang perjalanan aku bersama pasanganku,” pungkasnya.