JAKARTA - Band rock alternatif asal Jepang, ONE OK ROCK, sukses mengguncang panggung Indonesia Arena, Senayan, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 16 Mei, malam. Konser bertajuk ONE OK ROCK: DETOX Asia Tour 2026 ini menjadi magnet bagi puluhan ribu pasang mata yang memadati arena selama dua jam penuh.
Jakarta secara spesial dipilih menjadi kota penutup yang manis dari rangkaian tur Asia mereka, setelah sebelumnya Taka Moriuchi (vokal), Toru Yamashita (gitar), Ryota Kohama (bass), dan Tomoya Kanki (drum) sukses membakar panggung di kota-kota besar Asia lain.
Konser ini sekaligus menjadi ajang pengenalan langsung album studio ke-11 mereka, “DETOX”, yang sudah dirilis sejak Februari 2025 lalu—menandai tonggak 20 tahun perjalanan musik ONE OK ROCK.
Adapun pertunjukan dimulai pukul 20.00 WIB. Diawali lampu arena yang dipadamkan, kemudian visual khas album “DETOX” menghiasi monitor raksasa di belakang panggung—menggambarkan kondisi bumi yang karut-marut di tengah peperangan global, ditutup dengan simbol tangan kiri terangkat sebagai simbol perlawanan.
Tanpa basa-basi, Taka cs langsung menggebrak dengan membawakan “Puppet Can't Control You”, disusul tembang “The Beginning” yang merupakan OST Samurai X, serta “Save Yourself”. Total 19 repertoar lagu dibawakan malam itu, mengombinasikan trek teranyar dari album “DETOX” serta hit lain dari album “Niche Syndrome” (2010), “Zankyo Reference” (2011), hingga “Eye of the Storm” (2019).
BACA JUGA:
Pesan Kemanusiaan di Tengah Dunia yang Mengkhawatirkan

Di sela penampilan yang penuh tenaga, sang vokalis, Taka Moriuchi, membeberkan makna mendalam di balik lahirnya album “DETOX”. Ia menyebut, materi di album ini merupakan respons jujurnya terhadap gejolak sosial-politik dunia yang kian mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir.
"Beberapa tahun terakhir kami merasa kembali ke akar musik kami, kembali ke rock and roll yang lebih kuat,” ujar Taka.
“Tapi album kali ini terasa jauh lebih spesial, karena sekitar empat tahun lalu, saya mulai sadar kalau dunia ini sedang menuju kekacauan besar. Saya benar-benar merasakannya," sambung sang vokalis.
Taka juga secara berani menyentil fenomena musisi yang cenderung apatis dan memilih bungkam terhadap isu sosial demi menghindari kritik publik. Baginya, album “DETOX” diproduksi murni atas dasar kemanusiaan dan perdamaian universal, bukan agenda politik.
"Saya berharap pesan di album ini bisa sampai ke kalian semua. Dan saya juga sangat menghormati siapa pun kalian, apa pun gender dan pandangan kalian," ujarnya.
Pesan perlawanan itu terasa sangat kental saat ONE OK ROCK membawakan lagu “Renegades”. Taka mengatakan, lagu tersebut didedikasikan sebagai simbol perlawanan terhadap sistem diktator yang tidak adil di berbagai belahan dunia.
Aksi Kocak Personel dan Lautan Flashlight Penonton

Interaksi hangat antarpersonel dengan penggemar (OORers) menambah keintiman konser. Toru Yamashita sempat memancing gemuruh penonton dengan menantang volume suara mereka. Sementara itu, Tomoya Kanki sukses mengocok perut penonton saat menyapa menggunakan bahasa Indonesia yang fasih berkat membaca teks.
"Apa kabar Jakarta? Saya senang sekali bisa kembali ke sini. Terima kasih kembali,” kata Tomoya.
“Saya suka Blok-M. Saya suka cilok. Dan saya suka kalian semua," sambung sang drumer yang langsung disambut tawa penonton.
Suasana emosional memuncak menjelang akhir konser. Komunitas penggemar ONE OK ROCK Indonesia berhasil mengeksekusi fan project yang sudah dipersiapkan. Saat lagu-lagu bertempo lambat seperti “Tropical Therapy”, dan “The Pilot” dimainkan, penonton serentak menyalakan flashlight dari ponsel mereka.
Menariknya, beberapa penonton telah menempelkan stiker skotlet biru khusus pada lampu ponsel mereka. Alhasil, Indonesia Arena diselimuti perpaduan lautan lampu berwarna biru di area festival dan putih bersih di area tribun atas.
Aksi kreatif ini sempat membuat Taka melongo dan terdiam beberapa detik di atas panggung sembari mendongak mengagumi indahnya kilauan lampu tersebut. Terbawa suasana magis malam itu, sang vokalis pun tak kuasa menahan haru mengingat perjalanan panjang bandnya selama dua dekade terakhir.
"Kita adalah satu, dan aku ingin bersama dengan kalian. Selamanya," ucap Taka emosional sebelum menutup konser dengan tradisi swafoto bersama penonton dari atas panggung.