JAKARTA - Sebuah piringan hitam (vinyl) perdana dari ikon punk rock, Glenn Danzig, dilaporkan telah berpindah tangan dengan harga mencapai 10.000 dolar AS atau setara dengan Rp157 juta.
Penjualan yang dilakukan melalui platform Discogs itu menempatkan rilisan bertajuk “Who Killed Marilyn?” tersebut di posisi puncak daftar rekaman paling berharga yang terjual sepanjang Februari lalu.
Vinyl tujuh inci yang dirilis pertama kali pada tahun 1981 itu merupakan proyek solo perdana Danzig di luar band legendarisnya, Misfits.
Tingginya harga jual dipicu oleh kelangkaan varian spesifik yang terjual, yakni versi purple-and-black vinyl rilisan tahun 1983 yang kabarnya hanya diproduksi sebanyak 25 keping di seluruh dunia.
Berdasarkan keterangan resmi dari pihak Discogs, transaksi ini menjadi momen bersejarah bagi platform tersebut ,karena merupakan kali pertama versi ultra-langka ini muncul dan laku terjual.
Penjualnya pun mengklaim sebagai pemilik asli yang mendapatkan langsung piringan tersebut dari tangan Glenn Danzig pada tahun 1983.
"Setiap bulan, rekaman langka dan kolektibel dibeli dan dijual melalui Discogs, terkadang dengan harga yang sangat tinggi. Penjual mengklaim sebagai pemilik asli dan mengatakan mereka menerimanya dari Danzig pada tahun 1983," tulis pernyataan resmi Discogs, dikutip NME, Rabu, 11 Maret.
BACA JUGA:
Sebagai perbandingan, cetakan pertama versi standar berwarna hitam diproduksi sekitar 5.000 kopi dan biasanya dibanderol dengan harga rata-rata 500 dolar AS.
Namun, keberadaan varian ungu-hitam ini benar-benar berada di level yang berbeda bagi para pemburu harta karun musik. Di bawah Danzig, daftar rekaman termahal bulan ini juga diisi oleh nama-nama besar seperti The Rolling Stones dengan lagu “I Wanna Be Your Man” yang terjual senilai 6.400 dolar AS, serta ABBA melalui rilisan “Hovas Vittne” yang menyentuh angka 4.117 dolar AS.
Kenaikan nilai koleksi musik ini membuktikan bahwa rilisan fisik masih memiliki taji di tengah gempuran era streaming.
Nama Glenn Danzig sendiri memang tidak pernah lepas dari sorotan, baik karena karya musiknya yang berpengaruh maupun berbagai kontroversi yang menyelimutinya, mulai dari kritik terhadap cancel culture hingga penggunaan simbol-simbol yang dinilai ofensif pada merchandise bandnya.
Musim gugur ini, Danzig dijadwalkan untuk kembali menggebrak panggung melalui festival Louder Than Life di Amerika Serikat, bersanding dengan band besar lainnya seperti Iron Maiden dan My Chemical Romance.