JAKARTA - Dalam ekosistem kreatif Indonesia, musik kerap dipandang sebagai produk rasa semata. Namun bagi Aldo Sianturi, musik dapat dilihat dengan kalkulasi yang presisi. Pria yang dalam beberapa tahun terakhir menjalani profesi konsultan bisnis musik (music business consultant) itu melihat bahwa industri musik Tanah Air selama ini berjalan dengan pincang lantaran mengabaikan satu variabel krusial: literasi bisnis.
Lebih dari tiga dekade mengarungi industri musik lewat berbagai peran— mulai dari musikus, jurnalis musik, bekerja di Universal Music, hingga membidani lahirnya Billboard Indonesia, mendirikan label, dan membawa aggregator global seperti Believe ke Tanah Air—menjadikan Aldo dapat melihat dengan perspektif yang luas.
Baginya, persoalan musik bukan lagi soal bagus atau tidaknya sebuah lagu, melainkan bagaimana karya tersebut dapat menjadi aset yang termonetisasi secara sistematis.
"Satu hal yang dikuasai oleh masyarakat Indonesia adalah music production, di mana alat ukurnya adalah metronom, hati, dan beat. Tapi ada satu lagi namanya music business, di mana alat ukurnya kalkulator. Ada perhitungan uang di sini," kata Aldo dalam wawancara eksklusif dengan VOI di Tanah Abang, Jakarta Pusat baru-baru ini.

Aldo menyoroti populasi Indonesia yang lebih dari 284 juta jiwa—berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada pertengahan tahun 2025—sebagai “tambang emas” yang belum terkelola dengan baik.
Masalahnya, musisi Indonesia sering kali merasa tabu ketika dihadapkan dengan bisnis yang menyangkut finansial. Ada rasa sungkan yang mendarah daging, terutama saat berhadapan dengan teman sejawat.
Aldo mencontohkan bagaimana seorang musisi sesi sering bingung menentukan tarifnya sendiri. Padahal, tanpa keberanian untuk menetapkan nilai (value proposition), potensi ekonomi besar dari sektor hiburan—terkhusus musik—bisa menguap begitu saja.
“Kalau tidak paham itu, ya akhirnya kita lost transaction. Harusnya satu tahun itu Indonesia bisa punya Rp10 triliun dari entertainment, tapi karena manusianya enggak siap, akhirnya mungkin cuma Rp1 triliun,” katanya.
BACA JUGA:
Kilas Balik Musik Indonesia di Tahun 2025
Menoleh ke belakang, tahun 2025 menjadi laboratorium eksperimen yang luar biasa bagi musik Indonesia. Setelah sempat tersandera oleh hiruk-pikuk politik yang melelahkan, industri mendapatkan oksigen baru melalui genre yang disebut Aldo sebagai "Hip-Dut" atau Hip-hop Dangdut.
Fenomena "Garam dan Madu (Sakit Dadaku" dari Tenxi, Jemsii, dan Naykilla di awal tahun 2025 menjadi bukti sahih bagaimana pergeseran konsumsi musik terjadi secara radikal di kalangan Generasi Z.
"2025 ini sebenarnya bernafasnya musisi setelah digempur sama urusan politik. Capek banget itu sebelumnya. Akhirnya kita dikasih refreshing oleh 'Garam dan Madu', Hip-Dut,di awal tahun," ujar Aldo.
Ia menjelaskan bahwa kunci keberhasilan musik di tahun 2025 bukan lagi terletak pada strategi pemasaran konvensional, melainkan pada pemahaman terhadap algoritma.
Generasi sekarang tidak lagi mengenal "jam operasional". Platform streaming digital yang buka 24 jam penuh membuat mereka menjadi pengolah musik yang eklektik. Mereka "mengoplos" berbagai referensi dan menyajikannya dalam format yang sangat instan.
"Lagu-lagu tersebut sangat tergantung kepada algoritma, dan algoritma itu tidak membaca musiknya, tapi membaca perilaku pengguna (user behavior),” tutur Aldo. “Anak zaman sekarang itu tidak suka dengar lagu dengan intro panjang. Intro panjang langsung ditinggalin, namanya skip rate yang tinggi.”

Inilah alasan mengapa lagu-lagu dengan hook yang langsung menusuk di tiga detik pertama menjadi jawara di platform TikTok dan memicu lahirnya gelombang User Generated Content (UGC) yang masif.
Tak hanya soal tren, 2025 juga menjadi tahun penuh ketegangan hukum. Kasus Agnez Mo dan Ari Bias mengenai royalti pertunjukan (performing rights) hingga polemik Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) memaksa para praktisi musik untuk membuka buku hukum.
Aldo melihatnya sebagai sisi positif: publik mulai "melek". Persoalan yang selama ini mengkristal di balik layar akhirnya meledak ke permukaan, memaksa adanya perubahan sistem pemungutan royalti oleh LMKN yang lebih transparan.
Kontribusi musik dari wilayah Timur Indonesia juga mencapai puncaknya di tahun ini. Lagu-lagu dari musisi Timur yang viral, seperti “Stecu Stecu”, “Tabola Bale”, hingga “Orang Baru Lebe Gacor”, membawa para musisinya kepada panggung besar nasional.
Namun Aldo melihat viralnya musik Timur bukan seperti sulap, yang muncul begitu saja, melainkan sebagai upaya panjang para musisi Timur lain dalam beberapa tahun terakhir.
“Sebenarnya apa yang mereka lakukan itu bukan hal baru. Karena dari tahun 2012 sudah ada namanya Doddy Latuharhary,” ujar Aldo. “Dan dari lima tahun lalu, rapper di Timur itu sudah diakui sama Iwa K, kalau mereka punya swag yang berbeda, punya dialek yang berbeda, punya speed yang bagus. Tapi kan semua orang juga pada awalnya kalau bikin konten pasti jelek dulu lah, apalagi masalah editing. Tapi mereka belajar. Sekarang banyak aplikasi, software, dan segala macam. Akhirnya mereka dapat.”
Prakiraan Musik Indonesia di Tahun 2026
Beralih ke tahun 2026, tantangan yang dihadapi industri akan jauh lebih kompleks dan berteknologi tinggi. Aldo meramalkan bahwa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak lagi menjadi musuh, melainkan kawan karib musisi yang ingin bertahan hidup.
Langkah global Warner Music yang mulai melakukan efisiensi karyawan dan berkolaborasi dengan perusahaan AI seperti Suno adalah sinyal kuat yang tidak bisa diabaikan oleh pasar domestik.
“Dan semua company, sekarang mempersiapkan sebuah satu produk yang berhubungan dengan AI untuk bisa tadi memaksimalkan aset mereka, entah itu aset visual, aset audio, dan lain-lain, ke landscape yang lebih luas lagi,” kata Aldo.
Dari segi bisnis, ia melihat AI akan membantu musisi dalam memangkas biaya produksi awal, mulai dari pembuatan draft lagu hingga desain grafis yang selama ini memakan biaya besar. Di era di mana eksistensi ditentukan oleh masuk atau tidaknya sebuah karya ke dalam For You Page (FYP) Gen Z, kecepatan dan efisiensi adalah kunci. Tanpa bantuan teknologi, musisi berisiko dianggap sebagai "dinosaurus" yang punah dimakan zaman.
“Karena satu hal, kalau musisi sekarang tidak bersahabat dengan AI, berapa banyak uang yang harus dikeluarkan. Variable cost-nya itu tinggi lho,” ujar Aldo. “Variable cost di musik ini tinggi. Semua harus keren karena ini bisnis persepsi. Apalagi hari ini, kalau enggak ada di FYP-nya Gen Z ya selesai, dianggapnya ‘dinosaurus’.”
Perubahan besar lainnya yang diprediksi Aldo di tahun 2026 adalah kembalinya era band atau grup musik. Setelah lima tahun terakhir pasar musik diramaikan oleh solois, ia merasa publik mulai merasakan titik jenuh.
Meskipun menjadi solois dianggap lebih menguntungkan secara finansial karena pembagian pendapatan yang lebih direct, namun secara artistik, banyak solois yang mulai terjebak dalam "kolam" kreatif yang sama.

"Saya melihat di akhir 2025 ini adalah momen menurunnya pergerakan solois. Ada kerinduan orang dengan superstar yang punya gaya rock and roll. Mereka merindukan sebuah kelompok musik dengan gaya yang berbeda-beda. Maka tidak heran kalau tahun depan ini mulai muncul lagi band-band di Indonesia," tuturnya.
Namun di balik optimisme itu, Aldo menekankan pentingnya perbaikan sistemik. Ia menyarankan adanya "pemutihan" ekosistem musik Indonesia, di mana industri berjalan dengan data-data yang dapat diakses publik, layaknya di negara lain yang lebih maju.
Negara, menurut Aldo, harus hadir sebagai fasilitator melalui satu pintu kebijakan (single authority). Saat ini, musisi sering kali bingung harus mengadu ke mana; apakah ke Kemenkum untuk hak cipta, Kemenekraf untuk urusan ekonomi kreatif, atau Kemenbud untuk urusan kebudayaan.
"Kita tidak butuh Undang-Undang Permusikan, kita cuma butuh Komnas Musik. Komisi Nasional yang mengurusi permusikan," usulnya.
Baginya, potensi ekonomi musik Indonesia terlalu besar untuk dibiarkan berjalan tanpa kompas. Ia pun mengutip pernyataan mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, yang menyebut bahwa industri musik pernah mengalahkan industri baja di negaranya.
"Orang Indonesia itu keren, pemakan segala aliran musik. Pagi dengar koplo, siang dengar metal, malam dengar jazz. Kuping kita itu luar biasa. Sekarang tinggal bagaimana sistemnya dibuat agar semua aset ini bisa dikapitalisasi dengan baik," tandasnya.