Bagikan:

JAKARTA - Olivia Rodrigo membongkar rahasia di balik proses kreatifnya sebagai penyanyi-penulis lagu muda yang sukses menaklukkan pasar musik dunia.

Saat menjadi tamu di podcast milik Rock & Roll Hall of Fame bertajuk Music Makes Us, Rodrigo mengungkap salah satu album legendaris yang selalu ia jadikan pelarian untuk menemukan jati diri di tengah hiruk-pikuk industri musik global yang kompetitif.

Perbincangan dimulai dengan pertanyaan vokalis Bikini Kill, Kathleen Hanna—selaku pembawa acara—melontarkan pertanyaan mengenai karya musik apa yang paling berpengaruh ketika Rodrigo merasa kehilangan arah.

Tanpa ragu, pelantun “vampire” itu menyebut nama Alanis Morissette dengan mahakaryanya yang rilis pada tahun 1995, “Jagged Little Pill”.

Bagi Rodrigo, album tersebut bukan sekadar koleksi lagu, melainkan sebuah refleksi kemanusiaan yang sangat mendalam. Ia merasa setiap emosi manusia—mulai dari amarah hingga harapan—terangkum dengan sempurna dalam komposisi musik Morissette.

"Sejujurnya, saya mendengarkan ‘Jagged Little Pill’ milik Alanis Morissette ketika saya merasa, seperti, saya tidak tahu harus berkata apa atau seperti, siapa saya?” kata Rodrigo.

“Untuk beberapa alasan, album itu seperti, setiap bagian dari apa yang membuat manusia menjadi manusia, rasanya seperti terbungkus di dalam rekaman itu," sambungnya.

Penyanyi yang telah mengantongi tiga piala Grammy itu menilai, album tersebut memiliki spektrum emosi yang sangat luas namun tetap kohesif. Ia menyoroti bagaimana perasaan-perasaan negatif seperti rasa cemburu dan amarah bisa bersanding indah dengan kegembiraan yang tulus.

"Ada begitu banyak kemarahan dan dendam serta kecemburuan tetapi juga begitu banyak kegembiraan dan harapan. Semuanya seperti terjalin satu sama lain dengan cara yang sangat indah,” ujar penyanyi-penulis lagu 22 tahun itu.

“Saya sangat menyukai album itu seperti semua orang di planet ini, tetapi saya hanya berpikir, itu mengingatkan saya pada apa yang ingin saya kejar," tambahnya lagi.

Gaya penulisan Morissette yang jujur dan apa adanya menjadi kompas bagi Rodrigo dalam menulis lagu-lagunya sendiri. Ia mengagumi keberanian Morissette yang membiarkan segala kegelisahannya tertuang tanpa filter, tanpa memperdulikan apakah lagu tersebut akan menjadi populer atau disukai pasar.

Kekaguman Rodrigo terhadap Morissette memang bukan rahasia baru. Pada tahun 2021, keduanya sempat menghiasi sampul majalah Rolling Stone. Bahkan, setahun kemudian, Rodrigo mendapatkan kehormatan untuk melantik Morissette ke dalam Canadian Songwriters Hall of Fame.

Mengenang masa remajanya, Rodrigo menceritakan momen pertama kali ia bersinggungan dengan karya sang idola. Saat berusia 13 tahun, ia sedang berada di dalam mobil bersama orang tuanya ketika lagu “Perfect” terputar, yang kemudian mengubah perspektifnya dalam memandang seni menulis lagu secara total.

"Saya ingat mendengar Alanis untuk pertama kalinya ketika saya berusia sekitar 13 tahun. Saya berada di mobil bersama orang tua saya ketika ‘Jagged Little Pill’ diputar. Saya mendengar 'Perfect', dan saya seperti, 'Ya Tuhan… Kamu bisa menulis lagu seperti itu?' Saya baru saja melihat musik dan penulisan lagu dengan cara yang benar-benar berbeda," pungkas Rodrigo.