JAKARTA - Gitaris legendaris asal Swedia, Yngwie Malmsteen, melontarkan kritik tajam kepada deretan vokalis yang pernah bekerja sama dengannya.
Ia menuduh para eks vokalis mencoba mengambil keuntungan finansial dari jenama (brand) yang telah ia bangun selama puluhan tahun.
Ketegangan ini mencuat setelah beberapa mantan kolaboratornya mengumumkan tur yang menonjolkan materi lagu dari era mereka saat masih bersama Malmsteen.
Sosok yang dikenal dengan permainan neoclassical metal itu menegaskan, keterlibatan para penyanyi tersebut di masa lalu tidak memberikan mereka hak kepemilikan atas karya-karyanya.
"Jadi, telah sampai ke perhatian saya bahwa para penyanyi sewaan dan berbayar yang saya rekrut untuk album solo saya ini semuanya mencoba mengambil keuntungan dari merek saya!" kata Malmsteen, dikutip Blabbermouth, Minggu, 21 Desember.
Malmsteen, yang dalam karier panjangnya pernah mempekerjakan nama-nama besar seperti Jeff Scott Soto, Joe Lynn Turner, hingga Tim "Ripper" Owens, menekankan bahwa status mereka saat itu tak lebih dari sekadar karyawan.
Gitaris 62 tahun itu merasa perlu meluruskan sejarah mengenai siapa otak di balik kesuksesan album-album solonya.
"Mari kita perjelas: tampil di album solo saya tidak sama dengan kepemilikan, kepengarangan, atau warisan. Menulis satu baris kalimat di sana-sini tidak membuat seseorang menjadi penulis lagu, dan menyanyikan materi saya tidak menjadikannya milik mereka,” ujar Malmsteen.
“Mereka hanya diberi gaji (pekerja sewaan) untuk membawakan bagian-bagian yang saya tulis, sama seperti pemain kibor, bassis, drumer, dan lain-lain," tegasnya.
Pernyataan keras ini diduga dipicu oleh pengumuman konser Mats Levén di Jepang pada 2026 mendatang yang akan fokus pada album Facing The Animal (1997).
Selain itu, Mark Boals dan Michael Vescera juga berencana menggelar tur Eropa bertajuk "The Seventh Trilogy Tour" dengan label "The Voices of Yngwie Malmsteen".
Malmsteen pun mempertanyakan kredibilitas dan kreativitas para mantan rekannya itu di luar bayang-bayang namanya. Ia merasa mereka terlalu bergantung pada katalog lagu miliknya untuk menarik perhatian publik.
"Jika satu-satunya cara Anda bisa melakukan tur atau mendapatkan perhatian adalah dengan bersandar pada merek saya dan menggunakan nama saya serta judul album serta katalog solo saya, maka Anda telah menjawab sendiri pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya membangun sesuatu, dan apa yang telah mereka rekam/ciptakan selama 30, 40 tahun terakhir,” pungkas Malmsteen.