Bagikan:

JAKARTA - Raidy Noor, musisi dan produser musik yang mulai berkiprah di blantika musik Tanah Air sejak akhir tahun 1970-an, telah meninggal dunia di usia 66 tahun.

Raidy menghembuskan nafas terakhirnya pada Rabu, 15 Oktober pukul 21.50 WIB. Jenazah disemayamkan di kediamannya di Tangerang Selatan dan kemudian dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Tidak banyak anak muda saat ini yang mengenal Raidy Noor. Namun warisan musiknya masih tercatat dan dikenang. Yayasan Anugerah Musik Indonesia (YAMI) lewat akun Instagram resmi AMI Awards ikut mengenang peninggalannya lewat sebuah unggahan.

“Selamat jalan Raidy Noor,” tulis akun Instagram resmi AMI Awards dalam keterangan unggahan.

Disebutkan, Raidy Noor merupakan seorang musisi, produser, dan bassis legendaris yang telah memberi warna besar bagi musik Indonesia sejak tahun 1970-an.

“Dengan keahliannya dalam aransemen dan produksi musik, beliau berperan di balik banyak karya besar yang dikenang lintas generasi. Lebih dari sekadar pemain, Raidy Noor adalah pembimbing dan inspirasi bagi banyak musisi muda. Dedikasinya menjadikan beliau simbol profesionalisme dan cinta sejati pada musik Indonesia,” lanjutnya.

Raidy yang lahir pada 23 Mei 1959, menempuh pendidikan di SMA 3 Jakarta. Di sana, ia berkenalan dengan orang-orang yang kelak menjadi nama besar di industri musik Indonesia, sebut saja Fariz RM, Addie MS, Ikang Fawzi, Adjie Soetama, Deddy Dhukun, James F. Sundah, Cendi Luntungan, dan lainnya.

Ia juga pernah membentuk band bersama Addie MS, Ikang Fawzi, dan Cendi Luntungan—diberi nama Staff—yang mengusung perpaduan musik R&B, soul, funk, dan rock.

Staff sempat menelurkan satu album studio. Namun perjalanannya tidak panjang. Band ini bubar, dengan personelnya yang menempuh jalur musik berbeda.

Raidy pernah merilis album solo dengan tajuk “Sapa Semesta” pada tahun 1981. Beberapa lagu andalannya, seperti "Sapa Semesta", "Bulan Namanya", dan "Kiasan Kata".

Ia juga dikenal sebagai pentolan The Cockpit Band—grup musik tribute yang membawakan lagu-lagu band rock asal Inggris, Genesis.

Sebagai bassis, Raidy dikenal sebagai pemain yang berkarakter pada masanya. Kemampuannya itu membuatnya kerap dilibatkan dalam berbagai proyek lintas genre, baik sebagai pemain maupun penata musik.

Tidak hanya di atas panggung, Raidy juga dikenal sebagai sosok di balik layar. Ia banyak bekerja di studio rekaman dengan reputasinya yang detail dan profesional.

Sepanjang kariernya, Raidy Noor telah bekerja sama dengan sejumlah nama besar musik Indonesia. Ia pernah terlibat dalam proyek dengan Fariz RM, Erwin Gutawa, Indra Lesmana, Mus Mujiono, hingga musisi muda era 2000-an yang mencari sentuhan profesional dalam produksi mereka.

Meski jarang tampil di panggung besar atau layar kaca, nama Raidy Noor tetap menjadi legenda di kalangan musisi dan pelaku industri. Ia adalah penjaga kualitas dan harmoni yang mungkin tak selalu terlihat, tapi selalu terdengar.

Perjalanannya adalah bukti bahwa dalam musik, ada pahlawan-pahlawan sunyi yang bekerja di balik layar—memastikan setiap nada, vokal, dan harmoni terdengar sempurna bagi pendengar.