JAKARTA - Haram, band hardcore punk yang berbasis di Brooklyn, New York, AS, menampilkan wajah mendiang Affan Kurniawan dan Munir Said Thalib dalam sampul album terbarunya, “Why Does Paradise Begin in Hell?”.
Hal tersebut terungkap lewat foto-foto yang diunggah Disaster Records, label rekaman yang berbasis di Bandung, di akun Instagram resmi mereka.
Dalam sampul album dengan format kaset, tampak gambar peta Indonesia, di mana pada sisi kanan terdapat foto Affan dan Munir.
Sampul album yang dibuat dengan mengikuti warna bendera Indonesia itu juga memuat suatu slogan: “Merdeka dari penderitaan. Merdeka dari korupsi.”
Dalam keterangan unggahan, Disaster Records menyebut Haram sebagai: “Band hardcore punk asal Brooklyn yang dikenal karena memadukan musik hardcore 80-an yang menggelegar dengan lirik berbahasa Arab dan tema-tema pengungsian, perlawanan, dan identitas.”
“Energi konfrontatif dan urgensi politik mereka telah menjadikan mereka suara vital dalam kancah musik DIY (Do It Yourself) di New York,” tulis Disaster Records, mengutip keterangan unggahan, Rabu, 17 September.
BACA JUGA:
Adapun, album “Why Does Paradise Begin in Hell?” menghadirkan 12 trek dengan intensitas tanpa kompromi yang tersedia dalam bentuk kaset.
Affan Kurniawan sendiri dikenal sebagai pengemudi ojek online (ojol) yang menjadi korban meninggal saat aksi demonstrasi di Jakarta pada 28 Agustus lalu. Ia tewas setelah ditabrak dan dilindas mobil rantis polisi.
Sementara, Munir Said Thalib dikenal sebagai aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) pasca reformasi Indonesia, yang meninggal setelah diracun dalam perjalanan untuk menempuh studi di Belanda.
Namun begitu, foto Affan dan Munir tampaknya hanya tersedia pada sampul album yang diedarkan di Indonesia.
Sampul yang ditunjukan Disaster Records sangat berbeda dengan apa yang ditampilkan pada unggahan di akun Instagram resmi Haram.
Di AS, Haram merilis “Why Does Paradise Begin in Hell?” pada 11 September, bertepatan dengan peringatan Serangan 9/11, di mana terjadi serangan bunuh diri yang telah diatur terhadap beberapa target di New York City dan Washington, D.C. pada tahun 2001.