Bagikan:

JAKARTA - "Saya sangat mencintai musik. Bahkan dari sejak saya di rahim ibu saya itu menurut saya sudah punya kecintaan dengan musik. Tapi tidak dengan dunia musiknya," kata-kata itu terlontar dari Doadibadai Hollo, atau Badai, seorang musisi dan komposer yang memutuskan tahun ini menjadi tahun terakhirnya di musik.

26 tahun sudah sang komposer mengarungi perjalanannya di industri musik dengan segala dinamikanya. Selain sebagai musisi dan komposer, ia kini juga terlibat di AKSI (Asosiasi Komposer Seluruh Indonesia) sebagai Sekertaris Jenderal, untuk memperjuangkan hak-hak para pencipta lagu di Indonesia.

Sebelum membahas tentang aktivisme, perjuangan dan tahun terakhirnya di musik, kami terlebih dulu berbincang soal kecintaan Badai terhadap musik dan mencipta lagu. 

Bakat Badai dalam menulis lagu rupanya mulai terlihat sejak di bangku SMP. Ia mengenang kala itu di pejaran seni musik ia ditantang oleh guru untuk tampil  di depan kelas di pelajaran seni musik.

"Pada saat itu gue inget banget gue kelas 1 SMP tuh guru musik gue namanya Ibu Lilik (Almh). Dialah orang yang pertama melihat potensi gue gitu. Nah setelah pelajaran seni musik dia selalu menantang kalau ada yang bisa bikin puisi atau sajak di depan (kelas) boleh. Terus gue angkat tangan dan nyanyilah di depan kelas. Dan ternyata gue liat disitu temen-temen gue rata-rata suka sama lagu yang gue buat pada saat itu," kenang Badai dalam wawancara eksklusif dengan VOI pada 10 September.

Eksklusif Badai dan perjuangan komposer (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)
Eksklusif Badai dan perjuangan komposer (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)

Menurut Badai, tak ada cara instan menjadi penulis lagu andal yang karyanya bisa disukai banyak orang. Butuh konsistensi, dedikasi dan naluri untuk mengasah kepekaan dalam membuat lagu yang 'menjual'.

"Jadi ya gue berusaha untuk konsisten aja bikin lagu terus gitu ya, bikin lagu terus, bikin lagu terus. Sampai akhirnya momennya dapet gitu. Nah, kalo bisa dibilang sebagai pencipta lagu itu sulit, secara karya juga gak gampang. Gue harus men-survey juga nih kemauan publik seperti apa. Nah tapi memang dasarnya alasan gue sebagai pencipta (lagu) itu adalah memang mungkin DNA gue gitu ya. Untuk bisa bikin lagu dari SMP itu dan memang bakatnya di situ gitu," tambah founder dan mantan personel Kerispatih tersebut.

Namun dalam menjalani karier sebagai komposer, Badai juga merasakan perjuangan berat dalam mendapatkan hak yang semestinya. Lulusan Universitas Trisakti ini mengatakan seharusnya komposer sangat bisa hidup dari karyanya dengan beberapa catatan. 

"Harusnya bisa, kenapa? Karena ya memang pencipta lagu itu harusnya dapet penghasilan yang pertama, dari rilisan albumnya. Yang kedua dari eksploitasi di dunia digital pada hari ini. Dan yang ketiga di dunia panggung gitu. Nah yang menjadi masalahnya kan adalah gimana cara membuat pencipta lagu itu kaya, entah itu dari sistemnya, entah itu dari cara pemungutannya atau mungkin dari mentalitasnya. Mentalitas dari siapa? Ya dari pengguna dan juga dari penciptanya sendiri. Kenapa gue bilang dari penciptanya sendiri? Kadang-kadang komposer juga ada yang tidak bisa nabung," papar Badai.

Eksklusif Badai dan perjuangan komposer (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)
Eksklusif Badai dan perjuangan komposer (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)

Dalam obrolan, kami juga membahas bagaimana kondisi penyanyi dan pencipta lagu yang tengah mengalami distorsi. Komunikasi tak berjalan baik, sehingga perizinan lagu dan penyaluran royalti jadi akar permasalahan renggangnya hubungan tersebut.

"Kalau menurut saya awalnya penyanyi dan pencipta itu memang harmonis ya. Karena kan sama-sama membutuhkan. Dia butuh lagu dari pencipta, pencipta juga mencari penyanyi untuk membawakan lagunya. Supaya bisa diperdengarkan gitu kan. Cuma yang akhirnya menjadi distorsi. Dalam hubungan harmonisnya itu adalah ketidaksepahaman, pemikiran," tutur Badai.

"Artinya gini, pencipta ketika membuat lagu dia kan punya ide, dia punya kreativitas. Dia punya psikologi, punya kejiwaan yang ditumpahkan ke dalam sebuah lagu. Yang akhirnya dia berharap ketemu penyanyi yang tepat. Dan akhirnya penyanyi itu yang membawakan lagu itu kepada publik. Tetapi pada akhirnya karena sistem yang tidak bagus. Sistem yang tidak baik di negara ini. Yang mana pencipta itu tidak lagi bisa mendapatkan hasil daripada karyanya. Itulah yang akhirnya membuat gejolak ini makin muncul," paparnya.

Tahun Terakhir di Musik dan Legacy Terbesar di Industri

Eksklusif Badai dan perjuangan komposer (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)
Eksklusif Badai dan perjuangan komposer (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)

Hampir tiga dekade berkarier, Badai mengungkapkan akan memasuki tahun terakhir di dunia musik. Ia punya beberapa alasan untuk tak lagi berkecimpung di bidang yang sangat ia cintai tersebut.

"Karena saya sepertinya sudah merasa industri musik ini sudah jauh dari cita-cita saya sejak awal bermusik gitu. Bukan hanya industri musik, industri apapun, kepentingannya itu sudah di atas dari ketulusan berkarya. Saya ingin bermusik itu sebenarnya tier nomer satu adalah idealisme berkarya. Jangan yang menjadi nomer satu itu adalah kepentingan dan siapa yang di balik kepentingan tersebut. Jadi saya rasa karena itu sudah jauh dari perjuangan saya," jelasnya.

Ada sentimen kekecewaan dan kesadaran bahwa memperbaiki sistem untuk menyejahterakan komposer adalah hal yang sangat berat dilakukan. Meski tak mengungkap apa rencananya ke depan secara gamblang, tetap akan ada sesuatu yang diperjuangkan.

"Karena buat saya dunia musik itu hampir sama dengan dunia kepentingan yang lain. Ya mungkin ada dunia baru yang akan saya jalani nanti di tahun depan. Saya gak paham itu dunia apa dan saya belum bisa mengejawantahkannya sekarang," tutur Badai.

Eksklusif Badai dan perjuangan komposer (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)
Eksklusif Badai dan perjuangan komposer (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)

"Mungkin saya pikir saya akan menjadi orang biasa aja. Orang yang hanya memantau dan orang hanya melihat dari sudut pandang orang biasa. Bukan lagi menjadi pelaku.

Ketika ditanya mengenai legacy terbesar yang ditinggalkan untuk industri musik, Badai justru tak menyebut salah satu karyanya. Ia melihat perjuangannya bersama AKSI adalah sesuatu yang membanggakan dan memberi lebih banyak manfaat untuk pelaku industri musik, termasuk komposer.

"Legacy terbesar, mendirikan AKSI dan menjadi Sekretaris Jenderal-nya. Karena tidak banyak pencipta lagu yang berani bersuara dan berani bicara. Mungkin secara legasi terbesar bagi saya bukan punya album banyak, bukan punya hits banyak, punya royalti miliaran enggak. Saya ketemu teman-teman AKSI berjuang sama-sama sampai ke level pemerintahan, bisa berdialog itu menurut saya adalah sejarah yang perlu dicatat," ujar musisi kelahiran Jakarta tersebut.

Bicara soal tahun terakhir, Badai merasa sudah mencapai apa yang ia inginkan sebagai musisi. Dari rentetan hits hingga manajemen sudah ia dapatkan. Meski ada ketidaknyamanan yang dihadapi, ia sadar ada entitas yang sulit ditaklukkan.

"Di Indonesia saya rasa hampir semua sudah saya capai. Saya 26 tahun berkarier hits saya sudah banyak. Saya pernah ada di sebuah band besar yang sebagai founder dan pendiri juga. Sebagai seorang soloist saya sudah punya dua album solo, punya perusahaan sendiri untuk recording dan juga artis manajemen. Ya saya sudah ada rumah sudah punya studio termasuk nyaman lah saya sebagai musisi. Tapi ketidaknyamanan saya itu terganggu karena hal-hal tadi. Harusnya saya bisa diem aja dong dengan kenyamanan yang saya punya sekarang.

Eksklusif Badai dan perjuangan komposer (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)
Eksklusif Badai dan perjuangan komposer (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)

"Tapi kenapa saya terus bersuara gitu, karena saya terganggu dengan situasi yang tidak kondusif dari dunia permusikan ini. Tapi saya juga sadar bahwa saya sebagai manusia saya gak bisa memaksakan diri. Kalau kepentingannya itu tidak ada di tangan saya," kata penggagas Badai Romantic Project itu.

Menurutnya, musisi perlu berani bersikap. Itu yang coba ia lakukan bersama AKSI, sebuah perjuangan untuk menyuarakan keresahan dan memperbaiki nasib tangan-tangan kreatif yang berada di balik lahirnya sebuah lagu.

"Belum tentu orang lain yang bekerja di dunia seperti saya mau nyape-nyapein diri. Untuk fight sama apa terhadap haknya. Kan sekarang komposer cenderung diem mental inferior gitu, 'udahlah mungkin rejeki gue segini'.  Tapi dengan saya menemukan teman-teman di AKSI dan saya diberikan kepercayaan untuk menjadi sekjen aksi, saya bisa bersuara, saya bisa bersikap. Itu adalah catatan sejarah yang perlu saya catat di sepanjang hidup saya.".