BANDUNG - Forestra 2025 bekerja sama dengan Greenpeace Indonesia dalam gelarannya yang keempat pada 30 Agustus kemarin. Kerja sama ini merupakan sinergi harmonis antara musik dan alam.
Dalam setiap perhelatannya, Forestra membawa misi untuk mengapresiasi seni dan lingkungan. Begitu pula di tahun ini, beberapa aktivasi yang sejalan dengan misi tersebut disediakan untuk pengunjung.
Di Forestra 2025, terinstall beberapa solar panel untuk mendukung daya pengisian gawai elektronik di sejumlah area. Ada juga gerai busana dengan produk yang diproses secara daur ulang, eksplorasi kuliner dengan bahan khas Papua, sampai pertunjukan eksperimental musik menggunakan tanaman dari Bottlesmoker.
Jay Subyakto selaku show director menegaskan peduli lingkungan menjadi perhatian utama untuk Forestra tahun ini. Karena itu pemilihan venue hanya menggunakan hutan komersial, bukan hutan konservasi.
BACA JUGA:
"Prinsipnya pohon pantang tebang, tambang harus tumbang. Jadi kita tidak menebang satu pohon pun untuk acara. Seperti video mapping justru akan ditembakkan ke pohon, bukan layar," kata Jay Subyakto di sesi diskusi bersama Soleh Solihun dan Vincent Rompies.
Sebagai visual director, Jay tak menampik keinginannya untuk membawa konsep Forestra ke daerah-daerah lain. Dengan keindahan alam Indonesia yang memesona, ia berharap konsep ini akan dapat diterapkan di tempat berbeda.
"Pengen bisa berbagi ilmu sebanyak-banyaknya, mungkin nanti kalau ada franchise Forestra nggak harus saya yang handle. Karena potensi anak-anak muda di Indonesia sebenarnya sangat besar," tambahnya.
Forestra 2025 sukses menghibur para pengunjung dengan komposisi megah Erwin Gutawa Orchestra bersama sederet kolaborator. Penonton bergantian dihibur lewat aksi memukau Voice of Baceprot, Bernadya Sal Priadi, Sheila Dara hingga Reza Artamevia.