JAKARTA - Lagu berjudul “Tavoryn”, materi dari album penuh kedua “Life Update” yang dirilis September 2024, merupakan salah satu lagu yang paling diminati penggemar Arash Buana sejauh ini.
"Tavoryn" menjadi bentuk ungkapan duka Arash terhadap perpisahan di masa lalu. Dia menyadari bahwa terdapat jenis penyesalan yang sayangnya sulit lekang oleh waktu. Lagu ini menjadi cara penyanyi-penulis lagu 21 tahun itu untuk menyampaikan pesan kepada sosok yang diberi nama Tavoryn.
Menjawab pertanyaan siapakah sosok Tavoryn sebenarnya, Arash mengaku bahwa nama tersebut ditujukan pada wanita yang pernah menjadi pacarnya.
"Tavoryn adalah mantan pertama aku. Aku nggak bisa mengungkapkan nama aslinya, tapi Tavoryn adalah nama sosial media handle dia," ungkap Arash Buana melalui siaran pers, Minggu, 9 Februari.
Arash merasa kesuksesan lagu ini tidak lepas dari keyakinannya – bahwa sebuah karya musik yang sepenuhnya jujur pasti akan mencapai telinga pendengar
"Tavoryn" memang membawa kesan yang cukup berbeda. Bila dibandingkan dengan lagu-lagu lainnya di album tersebut, lagu ini memancarkan nuansa yang lebih minimalis, nyaris hening, namun lebih mengoyak emosi.
BACA JUGA:
"Alasan mengapa aku mengemas lagu ini dengan kemasan produksi musik yang lebih minimalis adalah karena aku ingin memberikan ruang yang lebih untuk perasaan aku terhadap Tavoryn,” katanya.
Pengalaman personal menjadi alasan khusus mengapa Arash memutuskan untuk menyuguhkan gaya penulisan lirik yang lebih gamblang dan bebas dari makna ganda.
"Sebelum aku menulis lagu ini, kebetulan hubungan romansa yang aku jalin pada saat itu baru saja usai. Tapi, entah kenapa, ketika aku memutuskan untuk merenung, apa yang terbesit di kepala aku malah ketika aku berpisah dari Tavoryn. Padahal perpisahan itu sudah terjadi sekitar empat tahun yang lalu. Entah kenapa, aku selalu refleks membandingkan setiap perpisahan aku dengan perpisahan pertama aku itu,” tuturnya.
"Ketika aku memutuskan untuk menggali lebih dalam kenangan masa lalu tersebut, aku menyadari bahwa mungkin ada semacam urusan yang belum selesai antara aku dan Tavoryn. Mungkin ada sesuatu yang seharusnya aku sampaikan kepada Tavoryn empat tahun yang lalu, tapi tidak aku sampaikan," lanjut Arash.
Dari segi musikalitas, "Tavoryn" dianggap mewakili identitas Arash Buana sebagai seorang penulis lagu – untuk meracik karya yang sepenuhnya berakar pada realita.
"Aku rasa realisme dalam songwriting aku, termasuk untuk lagu 'Tavoryn' ini, disebabkan oleh fakta bahwa aku menjajaki profesi sebagai seorang penulis lagu sedari usia yang sangat dini," ujar Arash.
"Aku melihat karya aku sebagai semacam titik introspeksi hidup aku. Dalam artian, menulis lagu adalah cara aku mendokumentasikan dan membedah apa yang hidup ini telah berikan padaku sejauh ini. Dan entah kenapa, semakin spesifik dan personal titik introspeksi tersebut, semakin terhubung musikalitas aku di mata dan telinga para pendengar karyaku,” imbuhnya.
Arash Buana ingin momentum perkenalan lagu "Tavoryn" juga menjadi perkenalannya bersama Tap Projects yang akan mempersembahkan pertunjukan bertajuk “The Class of 2000’s: Arash Buana and The Nakamas” di Krapela, Jakarta Selatan pada 26 Februari mendatang.
"Sepanjang live event ini, aku berencana untuk membawakan beberapa deep cuts aku yang jarang dibawakan di panggung-panggung aku yang sebelumnya. Di sini, misi utama aku adalah memperlihatkan kepada para audiens nanti seperti apa isi jiwa aku sebagai seorang musisi. Mungkin live event ini bakal menjadi panggung aku yang lebih liar dan lebih menyenangkan ketimbang panggung-panggung aku yang biasanya,” tuturnya.
“The Class of 2000’s: Arash Buana and The Nakamas” juga menjadi pemanasan bagi Arash untuk rencana besar yang telah disiapkan untuk tahun ini.