Bagikan:

JAKARTA - Penjualan mobil listrik di Eropa melonjak tajam pada Maret 2026. Untuk pertama kalinya, angkanya menembus lebih dari setengah juta unit. Namun di saat yang sama, pasar global justru belum benar-benar pulih.

Mengutip laporan Anadolu Agency, Selasa, 14 April yang merujuk data Benchmark Mineral Intelligence, penjualan mobil listrik di Eropa pada Maret mendekati 540 ribu unit. Angka ini naik 72 persen dibanding Februari dan tumbuh 37 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Lonjakan ini tidak lepas dari kenaikan harga bahan bakar. Gangguan pasokan minyak di tengah perang AS-Israel-Iran membuat ongkos berkendara berbasis BBM makin mahal. Di sisi lain, sejumlah negara kembali menggelontorkan subsidi. Kombinasi ini mendorong konsumen beralih ke mobil listrik.

Inggris, Belgia, Finlandia, Prancis, Italia, Portugal, dan Spanyol menjadi pasar dengan pertumbuhan paling menonjol.

Secara global, penjualan mobil listrik pada Maret mencapai 1,75 juta unit. Naik tipis 3 persen dibanding tahun lalu, tetapi melonjak 66 persen dibanding bulan sebelumnya. Eropa menjadi penopang utama kenaikan ini.

Namun jika ditarik ke gambaran yang lebih lebar, ceritanya berbeda. Pada kuartal pertama 2026, penjualan mobil listrik global justru turun 3 persen menjadi sekitar 4 juta unit.

Penurunan ini terutama dipicu oleh China. Pasar terbesar dunia itu mencatat penjualan 1,9 juta unit pada kuartal pertama, turun 21 persen dibanding tahun lalu. Penurunan tajam pada Februari, saat libur Tahun Baru Imlek, ikut menekan kinerja awal tahun.

Amerika Utara juga belum menunjukkan perbaikan. Penjualan di kawasan ini turun 27 persen menjadi 320 ribu unit. Sebaliknya, Eropa tumbuh 27 persen menjadi 1,2 juta unit, sementara kawasan lain melonjak 79 persen menjadi 600 ribu unit.

Manajer Data Benchmark Mineral Intelligence, Charles Lester, dikutip dari Anadolu menyebut Maret sebagai bulan terkuat Eropa sepanjang pencatatan. Menurut Lester, kenaikan harga bahan bakar dan dukungan subsidi menjadi pendorong utama.

Meski begitu, pasar belum sepenuhnya stabil. Lester mengingatkan masih ada tekanan mendasar, mulai dari harga kendaraan, infrastruktur pengisian daya, hingga kebijakan yang belum seragam antarnegara. Perbedaan kinerja antarwilayah juga semakin terlihat.