Bagikan:

JAKARTA –  Dr. Karina dan timnya sebenarnya sedang melakukan penelitian membikin tulang rawan untuk anak-anak  yang lahir tanpa telinga. Namun karena COVID-19 sedang merajalela, akhirnya penelitiannya dibelokkan pada aaPRP untuk terapi pendamping bagi pasien COVID-19.

Pilihan ini diambil bukan tanpa pertimbangan yang matang, setelah aaPRP ini selesai Karina dan tim akan melanjutkan penelitian membuat tukang rawan. Begitu yang ia kemukakan saat disambangi di Hayandra Lab dan Klinik, bilangan Kramat, Jakarta Pusat belum lama berselang.

Peneliti

Sebagai seorang dokter dan juga peneliti, Dr. Karina ingin sekali menularkan kepada generasi muda. “Alhamdulillah saya tertolong saat diliput media, saya bisa mengedukasi masyarakat termasuk kaum muda untuk menyadari bahwa di setiap profesi itu ada  riset lho. Dan riset itu nggak ada matinya,” katanya.

Dan kalau bicara apakah dari riset itu bisa menghasilkan uang? Jawabnya ya. “Contoh kami pernah  mengeluarkan paten untuk stem cell yang tidak dibiak. Hasil paten kami ditaksir sama luar negeri. Mereka mau beli tapi kami belum lepas, karena sayang kalau kami jual paten ini, nanti akan kembali ke Indonesia dengan harga yang jauh lebih mahal.  Nah itu kan bisa menjadi nafkah hidup,” katanya.

Dr. Karina. (Foto; Savic Rabos/DI: Raga-VOI)
Dr. Karina. (Foto; Savic Rabos/DI: Raga-VOI)

Riset itu masih kata dia, sangat menarik karena tidak terbatas dan berkembang terus. “Masih banyak sekali diperlukan, sebenarnya projek aaPRP untuk pendamping terapi pasien COVID-19 yang sekarang ini sedikit membelokkan program kami membikin tulang rawan untuk anak-anak  yang lahir tanpa telinga. Jadi betapa luasnya, masih banyak sekali baik di medis maupun nonmedis yang bisa diteliti dan bisa jadi baik dan bisa jadi kemaslahatan masyarakat,” lanjutnya.

Setelah saya jelaskan seperti ini mahasiswa saya banyak yang penasaran. “Mereka bilang  keren juga ya bidang biomedik. Saya bukakan mata mereka, ini lho ada biomedik,” jelasnya.  “Jadi biomedik dan bioteknologi sekarang sudah banyak disambut orang. Makin banyak universitas yang membuka jurusan ini. Bayangkan ya pada saat nanti  betapa biomedik itu berguna untuk  setiap sisi kehidupan manusia,” tandasnya.

Gaya Hidup

Bagaimana Anda menjaga kesehatan dan kebugaran di tengah pandemi sekarang ini? “Sebagai seorang dokter saya masih bekerja setiap hari, klinik tetap buka dan pasien ada terus. Meski sibuk diupayakan makan tidak telat dan istirahat yang cukup. Jadi untuk urusan itu dari saya tak ada yang spesial,” katanya.

Dr. Karina. (Foto; Savic Rabos/DI: Raga-VOI)
Dr. Karina. (Foto; Savic Rabos/DI: Raga-VOI)

Momentum mama tercinta terkena kanker enam tahun lalu membuat Karina merasa lebih memerhatikan pertahanan tubuh. “Mama saya berobat ke Jepang dengan cell therapy di sana,” katanya.

Karina punya nazar kalau mamanya sembuh dia akan membawa teknologi pengobatan itu ke Indonesia. “Soalnya biayanya mahal banget, dengan kita bawa ke Indonesia pasien serupa bisa terbantu. Tapi untuk alih teknologi itu saya harus belajar dulu tentang sel imun tubuh, kalau engga menguasai profesornya engga mau kasih,” katanya.

Sel imun itu amat tergantung pada banyak hal, utamanya diet (pola makan). “Orang Indonesia tuh sangat suka karbohidrat, makan nasi biar sehat pakai sayur dong.  Terus biar sehat lagi pakai buah. Tapi coba perhatikan, kalau kita dapat nasi kotak.  Buahnya rata-rata pisang, jadi ada nasi yang karbohidrat, lalu ada sayur yang karbohidrat juga. Dan ada pisang itu juga karbohidrat. Lauknya biasanya ayam sepotong. Dengan komposisi seperti itu, tidak seimbang antara protein dan karbohidrat. Harusnya  nasinya setengah saja, lauknya tiga potong dan buahnya ganti selain pisang. Asupan makanan itu amat berpengaruh pada  sel imun  kita,” paparnya.

Dan yang berikutnya adalah vitamin D, ini banyak didapat dari sinar matahari. “Orang Indonesia menurut penelitian kami itu banyak yang kekurangan, padahal sinar matahari itu gratis lho. Makin ke sini kita makin jauh dari sinar matahari, padahal itu penting sekali,” katanya.

Probiotik alias bakteri baik dalam tubuh juga harus dijaga. “Caranya dengan mengonsumsi tahu, tempe, dan makanan yang buat melalui permentasi seperti yogurt, kefir dan kombucha, itu semua mengandung probiotik. Itu yang saya terapkan di rumah dan juga di klinik. Saya suka jagain makan mereka,” katanya.

Gorengan, lanjut Karina juga kurang bagus untuk tubuh. “Goreng itu menghasilkan radikal bebas untuk tubuh kita, yang akan membuat sel-sel kita kolaps  kerjanya. Radikal bebas itu seperti polusi di badan kita, dan gorengan itu menyuplai radikal bebas. Jadi selama ini kita banyak salah kaprah. Jadi untuk menjaga sel imun itu sebenarnya tidak sulit. Sesederhana makan sehari-hari, sesederhana minum air putih dan sesederhana menghindari gorengan,” tandasnya.

Untuk olahraga apa yang Anda lakukan? “Dulu sebelum pandemi saya sepeda, tapi sekarang engga bisa. Harus mencari alternatif lain ni hehehe,” kata Dr. Karina yang berharap hasil penelitiannya dan tim soal aaPRP bisa diaplikasikan untuk rumah sakit di seluruh Indonesia dalam menyembuhkan pasien COVID-19.