JAKARTA - Festival musik kini tidak lagi sekadar menjadi ruang hiburan, tetapi mulai berkembang sebagai medium untuk menyampaikan pesan yang lebih luas, termasuk isu lingkungan.
Melalui pendekatan yang dekat dengan generasi muda, sejumlah acara menghadirkan pengalaman yang menggabungkan musik, edukasi, dan aktivitas berbasis alam. Upaya ini sekaligus menjadi cara untuk mengajak masyarakat lebih sadar terhadap pentingnya menjaga ekosistem, tanpa meninggalkan unsur rekreasi.
Salah satu inisiatif yang mengusung konsep tersebut hadir melalui rangkaian acara “Sunset di Kebun Series 2026”.
Program ini terdiri dari beberapa format, yakni Sunset di Kebun, Sunset di Pantai, serta format baru Jazz di Kebun yang diperkenalkan tahun ini. Seluruh rangkaian dirancang sebagai pengalaman terpadu yang menggabungkan hiburan dengan pendekatan berbasis lingkungan.
"Sebagai pengelola Kebun Raya, kami membawa tanggung jawab untuk menjaga dan mengenalkan nilai konservasi kepada publik. Sunset di Kebun Series menjadi cara kami menyampaikan pesan tersebut melalui pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda, yaitu musik dan pengalaman langsung di alam,”
Demikian ungkap Managing Director PT Mitra Natura Raya, Marga Anggrianto dalam konferensi pers Kebun Series 2026 Presented by Tring! by Pegadaian di Jakarta, Selasa, 5 Mei.
Setiap konsep dalam rangkaian ini menawarkan pengalaman yang berbeda. Sunset di Kebun mengusung suasana ruang hijau dengan konsep piknik, sementara Sunset di Pantai menghadirkan nuansa santai di kawasan pesisir. Adapun Jazz di Kebun dirancang lebih intim dengan kurasi penampil yang lebih selektif.
Target pengunjungnya mencakup generasi muda hingga keluarga, yang tidak hanya mencari hiburan, tetapi juga pengalaman yang lebih menyeluruh. Selain menikmati pertunjukan musik, pengunjung diajak untuk berinteraksi, bersosialisasi, serta mengikuti berbagai aktivitas dalam satu ruang yang terintegrasi.
"Kami meninjau betul efek dari kerusakan dari event berskala besar seperti ini. Misalnya pengunjung yang menikmati musik itu sambil duduk seperti piknik. Dengan demikian, kerusakan lingkungan tidak akan semakin banyak dibandingkan festival musik yang penontonnya berdiri atau lompat-lompat," jelas Presiden Direktur PT Mitra Natura Raya, Michael Bayu A. Sumarijanto di kesempatan yang sama.
BACA JUGA:
Pada tahun 2026, rangkaian acara ini dijadwalkan berlangsung di beberapa kota seperti Jakarta, Bogor, dan Bali. Pembukaannya digelar di Kebun Raya Bogor pada 9 dan 10 Mei 2026, kemudian berlanjut ke Jakarta pada Juni dan Bali pada Juli. Sejumlah musisi seperti Tulus, Fiersa Besari, Hindia, hingga Nadin Amizah dijadwalkan tampil.
"Pengunjung kami tidak hanya datang untuk melihat penampilan, tetapi untuk menikmati keseluruhan pengalaman dari awal hingga akhir acara,” ujar General Manager Event PT Mitra Natura Raya, Abi Irawan.
Pengembangan program ini juga didukung oleh capaian sebelumnya, di mana rangkaian acara serupa telah diselenggarakan di berbagai lokasi seperti Bogor, Cibodas, Purwodadi, Bali, hingga kawasan Jakarta. Antusiasme pengunjung terhadap konsep festival berbasis alam ini dinilai cukup tinggi, terutama di destinasi wisata.
Selain menghadirkan hiburan, penyelenggara juga memasukkan unsur edukasi melalui program yang berfokus pada isu lingkungan. Inisiatif seperti Lesstari dan Plant Heroes dirancang untuk meningkatkan pemahaman pengunjung mengenai pentingnya menjaga ekosistem serta pelestarian tanaman.
Misalnya saja pada tahun ini, potret tanaman yang diangkat untuk menjadi Plant Heroes adalah Hoya. Jenis tanaman hias yang satu ini tersebar di Asia Tenggara dan terbanyak spesiesnya ada di Indonesia.
Tanaman Hoya tak hanya sekadar tanaman hias yang dapat mempercantik sebuah taman atau dekorasi rumah, tapi juga memiliki manfaat yang luar biasa. Termasuk dapat menyerap polutan udara, menjadi obat antiinflamasi, antiinfeksi, luka bakar hingga diyakini dapat membawa keberuntungan.
"Pengunjung dapat menikmati musik sekaligus mendapatkan pemahaman baru tentang keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia, sembari menjaga alam dan keberlanjutan ekosistem,” papar Michael Bayu.
Di sisi lain, kolaborasi dengan pihak lain juga dilakukan untuk menghadirkan pengalaman yang lebih terintegrasi, termasuk dalam hal kemudahan akses dan aktivitas di area acara.
Pendekatan ini bertujuan untuk menyesuaikan kebutuhan pengunjung masa kini yang menginginkan pengalaman praktis sekaligus beragam dalam satu kegiatan.
Melalui konsep yang menggabungkan hiburan, edukasi, dan interaksi sosial, festival ini mencerminkan bagaimana acara musik dapat berkembang menjadi ruang yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendorong kesadaran terhadap isu yang lebih luas, termasuk keberlanjutan lingkungan.