JAKARTA - Kebutuhan dasar bayi tidak hanya terbatas pada asupan nutrisi dari Air Susu Ibu (ASI), tetapi juga perlindungan terhadap berbagai penyakit melalui imunisasi.
ASI memang berperan penting dalam memenuhi kebutuhan gizi dan meningkatkan daya tahan tubuh bayi, namun perlindungan tersebut bersifat umum. Untuk mencegah penyakit tertentu yang berisiko serius, bayi tetap memerlukan vaksinasi sebagai bagian dari upaya perlindungan kesehatan sejak dini.
Ikatan Dokter Anak Indonesia menekankan pentingnya vaksinasi meskipun kebutuhan anak mengonsumsi ASI telah tercukupi.
"Tidak semua yang ada dalam kandungan ASI tersebut bisa menjaga penyakit tertentu. Contohnya, kenapa setelah bayi lahir mulai diberikan vaksin hepatitis, diberikan vaksin polio, dan juga vaksin difteri, pertusis dan tetanus?" kata Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI Dr. dr. Rodman Tarigan, Sp.A, Subsp.T.K.P.S (K) dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa, 5 Mei.
Rodman menjelaskan vaksinasi memiliki fungsi yang berbeda dibandingkan ASI. Jika ASI memberikan perlindungan umum sekaligus memenuhi kebutuhan nutrisi, vaksin bekerja secara spesifik untuk melindungi tubuh dari penyakit tertentu yang berpotensi menimbulkan risiko lebih serius.
Beberapa penyakit yang memerlukan perlindungan khusus melalui vaksin antara lain hepatitis, polio, difteri, hingga tetanus. Penyakit-penyakit tersebut disebabkan oleh virus atau bakteri yang berasal dari lingkungan luar dan dapat dengan mudah menginfeksi bayi yang sistem imunnya masih berkembang.
BACA JUGA:
Paparan penyakit juga dapat terjadi dari interaksi sehari-hari, bahkan dari lingkungan terdekat seperti keluarga. Kontak fisik yang tampak sederhana dapat menjadi jalur penularan jika tidak disertai kesadaran akan kondisi kesehatan.
"Misalnya, dicium oleh orang tuanya, dicium oleh neneknya, ada yang menggendong mungkin belum siap tangan, atau lagi masa inkubasi, dia sebetulnya sedang sakit tapi tidak sadar, dia cium-cium, cucunya cium-cium, mulailah terpapar dan akhirnya bayi jadi sakit," katanya.
Meski demikian, Rodman menegaskan bahwa ASI tetap merupakan sumber nutrisi terbaik bagi bayi, terutama pada enam bulan pertama kehidupan, dan dianjurkan untuk dilanjutkan hingga usia dua tahun.
ASI mengandung berbagai zat penting seperti protein, karbohidrat, serta antibodi yang telah disesuaikan dengan kebutuhan bayi. Kandungan tersebut berperan dalam membangun sistem kekebalan tubuh dan melindungi dari berbagai infeksi.
"ASI bisa meningkatkan imunitas, menjaga (bayi dari) infeksi, juga menjaga energi. Jadi sangat lengkap, karena dikatakan satu tetes ASI itu kandungannya sangat luar biasa," katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya masyarakat untuk lebih bijak dalam menyaring informasi, terutama di tengah arus informasi yang semakin cepat.