JAKARTA - Drama mikro China makin sering muncul di layar ponsel pengguna global. Formatnya sederhana yaitu serial pendek vertikal, biasanya hanya beberapa menit per episode, tetapi tetap punya cerita bersambung.
Melansir laporan Xinhua, Kamis, 30 April, drama mikro kini menyebar cepat dari Asia Tenggara sampai Eropa dan Amerika Serikat. Pola ini cocok dengan kebiasaan baru penonton yang terbiasa menggulir layar, tetapi tetap ingin mengikuti cerita.
Pendapatan luar negeri drama mikro China mencapai 1,5 miliar dolar AS dalam delapan bulan pertama 2025, naik 194,9 persen secara tahunan. Unduhan global aplikasinya juga melonjak 370,4 persen menjadi sekitar 730 juta.
Model bisnisnya lebih ringan dibanding ekspor serial televisi biasa. Drama mikro disebar lewat aplikasi dan langsung menghasilkan uang dari pembayaran pengguna.
Ouyang Rihui, Wakil Direktur China Center for Internet Economy Research, mengatakan model itu membuat ekspansi ke pasar luar negeri lebih cepat.
BACA JUGA:
Perusahaan China kini tidak hanya menjual konten. Mereka juga membawa sistem produksi dan distribusi. Naskah dibuat di China, lalu disesuaikan dengan penonton lokal. Banyak produksi mulai memakai aktor asing dan tim setempat.
Produser berbasis Los Angeles bermarga Zhang mengatakan produksi lokal memang lebih mahal, tetapi lebih kuat dari sisi kualitas dan kedekatan budaya.
AI ikut mempercepat industri ini. Teknologi tersebut dipakai untuk menulis naskah, menerjemahkan, menyunting, hingga mengatur rekomendasi konten. Biaya turun. Waktu produksi lebih pendek.
“Apa yang dulu tampak seperti gelombang yang jauh kini menyapu setiap sudut industri film dan televisi,” kata Feng Shengyong dari National Radio and Television Administration China dikutip Xinhua.
Kuaishou menyebut alat AI mereka telah mendukung lebih dari 60 juta kreator di seluruh dunia dan membantu produksi lebih dari 600 juta video sejak 2024.
AI juga membuka pintu bagi kreator kecil. Wen Xiaomeng, pendiri perusahaan rintisan di Chengdu, mengatakan timnya yang hanya 10 orang mampu membuat animasi pendek populer dengan bantuan AI. Anggotanya bahkan datang dari bidang nonfilm, seperti kimia dan keamanan pangan.
Teknologi ini juga membantu genre fantasi, sejarah, dan mitologi. AI membuat adegan visual yang sulit dan mahal bisa diproduksi dengan biaya lebih rendah.
Di Wuhan, kreator AI Yang Hanhan membuat film pendek sejarah tentang jenderal Huo Qubing hanya dengan tim tiga orang. Proyek itu selesai dalam 48 jam dan menelan biaya sekitar 3.000 yuan atau 437 dolar AS untuk komputasi.
Namun, ekspansi global tidak cukup mengandalkan teknologi. Liu Xingliang, pakar ekonomi digital, mengatakan AI memang membantu penerjemahan, pelokalan, produksi konten, dan rekomendasi. Tetapi tiap pasar tetap punya selera berbeda.
Tantangan terbesar kini adalah pelokalan. Ouyang mengatakan industri ini perlu lebih memahami nilai, konteks sosial, dan selera visual di pasar penting seperti Eropa dan Amerika Serikat.
Ke depan, pertumbuhan drama mikro China akan sangat bergantung pada kemampuan menggabungkan teknologi, cerita lokal, dan kerja sama dengan platform serta kreator di luar negeri.