JAKARTA - Di tengah perubahan gaya hidup yang semakin dinamis, cara masyarakat menikmati makanan pun ikut berevolusi menjadi lebih fleksibel dan adaptif. Dunia kuliner Indonesia kini tidak hanya berbicara soal rasa, tetapi juga tentang bagaimana pengalaman makan dapat menyesuaikan kebutuhan konsumen yang terus berubah.
Tahun ini, ALLFood Indonesia 2026 hadir sebagai ruang eksplorasi yang menggambarkan tren baru dalam menikmati kuliner. Tidak sekadar menghadirkan ragam hidangan, pameran ini memperlihatkan bagaimana pelaku industri merancang pengalaman makan yang lebih praktis, fleksibel, dan tetap berkualitas di berbagai situasi.
Berlangsung pada 15–18 April 2026 di ICE BSD, Tangerang, pameran ini mengangkat pendekatan baru dalam bisnis kuliner melalui konsep "The Lean-Service Era" yang diperkenalkan oleh ESB.
Alih-alih menitikberatkan pada kompleksitas operasional, konsep ini lebih menyoroti bagaimana fleksibilitas menjadi kunci utama. Mulai dari proses memasak hingga penyajian, semuanya dirancang agar lebih cepat, efisien, dan tetap memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi pelanggan, baik saat makan di tempat maupun dari rumah.
Dalam tren kuliner semakin fleksibel, efisiensi kini berjalan beriringan dengan kenyamanan. Pelanggan menginginkan kemudahan dalam setiap langkah, mulai dari pemesanan hingga menikmati hidangan. Hal ini mendorong pelaku usaha untuk menciptakan sistem yang lebih praktis, tanpa menghilangkan sentuhan personal yang membuat pengalaman makan tetap berkesan.
“Gejolak ekonomi 2026 justru menjadi momentum kritis bagi pelaku usaha F&B untuk segera mengadopsi teknologi yang tepat. Saat harga bahan baku melonjak, biaya energi meningkat, dan margin semakin tipis, setiap rupiah dalam operasional harus dipertanggungjawabkan," ujar Gunawan, Co-Founder & CEO ESB, dikutip dari keterangan resmi ESB.
"Inilah saatnya pelaku usaha beralih dari cara lama yang penuh kebocoran menuju sistem yang benar-benar efisien. Ekosistem ESB dirancang tepat untuk kondisi seperti ini. Mulai dari aplikasi kasir ESB POS yang menjadi otak dari efisiensi operasional toko, pengelolaan harga pokok yang presisi demi memastikan kestabilan profitabilitas melalui sistem ERP ESB Core, efisiensi perputaran konsumen dan penjualan lebih banyak lewat sistem order online ESB Order, hingga pengambilan keputusan berbasis data real-time melalui aplikasi AI OLIN. Semua pilar ini bekerja bersama untuk memangkas pemborosan, mengontrol biaya, dan menjaga profitabilitas bisnis kuliner bahkan di tengah krisis global sekalipun,” lanjutnya.
Lebih dari sekadar sistem, pendekatan ini mencerminkan bagaimana fleksibilitas menjadi bagian penting dalam mendukung pelaku usaha. Dengan dukungan teknologi, mereka dapat lebih fokus menghadirkan rasa terbaik, menjaga kualitas, serta menciptakan pengalaman makan yang konsisten di berbagai kanal.
Tren ini juga sejalan dengan kebiasaan baru pelanggan yang menginginkan kebebasan dalam menikmati kuliner. Baik itu makan langsung di restoran, memesan secara online, atau mengambil pesanan dengan cepat, semuanya kini menjadi bagian dari pengalaman yang terintegrasi dan seamless.
Kolaborasi dengan IWARE sebagai mitra strategis turut memperkuat konsep fleksibilitas ini. Dukungan yang diberikan mencakup seluruh proses, dari operasional dapur hingga pelayanan kepada pelanggan, sehingga pengalaman kuliner terasa lebih lancar dan terorganisir.
Perpaduan tersebut menunjukkan dapur modern tidak hanya tentang menciptakan rasa yang lezat, tetapi juga tentang menghadirkan alur kerja yang efisien dan mampu menyesuaikan dengan berbagai kebutuhan pelanggan, tanpa kehilangan identitas khasnya.
“Kami percaya ketahanan bisnis kuliner Indonesia ada pada fondasi teknologi yang tepat, baik dari sisi perangkat lunak maupun hardware. Situasi ekonomi global saat ini justru mempercepat kebutuhan pelaku usaha untuk go-digital secara menyeluruh, dan kami bangga mendukung misi ESB di ALLFood 2026 untuk mewujudkan hal itu dengan memberikan promo bundling dan juga promo menarik lainnya di acara ini,” ujar Sugiharto, Direktur Utama IWARE.
BACA JUGA:
Menariknya, pengalaman di pameran ini juga dirancang lebih interaktif. Pengunjung tidak hanya melihat, tetapi dapat langsung merasakan bagaimana sistem bekerja dalam mendukung fleksibilitas layanan, mulai dari pemesanan hingga penyajian makanan dengan lebih cepat dan efisien.
Di balik semua perkembangan ini, terdapat pesan yang kuat bahwa fleksibilitas adalah masa depan dunia kuliner. Adaptasi terhadap teknologi dan perubahan perilaku konsumen tidak menghilangkan identitas, melainkan memperkuatnya agar tetap relevan.
“Harapan kami para pelaku bisnis kuliner dapat makin fokus pada inovasi bisnis, menjaga kualitas, kreativitas, dan memperoleh data-data yang mendukung seluruh keputusan sehari-hari tanpa membuang waktu mereka yang berharga di bagian teknologi yang seharusnya menjadi fokus kami. Ketidakpastian global tidak menjadi penghalang ekspansi bisnis dengan memiliki partner teknologi yang tepat." tutup Gunawan.
Melalui ALLFood Indonesia 2026, terlihat jelas bahwa masa depan kuliner tidak hanya tentang hidangan yang disajikan, tetapi juga tentang bagaimana pengalaman menikmatinya menjadi lebih fleksibel, nyaman, dan sesuai dengan ritme kehidupan modern.