Bagikan:

JAKARTA - Dalam beberapa tahun terakhir, kehidupan orang-orang di kelas menengah mulai mengalami pergeseran yang cukup terasa, terutama di kalangan generasi muda.

Jika dulu memiliki rumah, kendaraan, dan hidup stabil dianggap sebagai pencapaian yang realistis, kini banyak anak muda justru menghadapi realitas berbeda.

Hal ini pun dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari biaya hidup yang terus meningkat, harga properti yang semakin sulit dijangkau, hingga tuntutan gaya hidup modern membuat konsep “mapan” menjadi semakin relatif.

Di tengah kondisi tersebut, muncul pula fenomena yang mana banyak generasi muda terlihat baik-baik saja secara finansial, namun sebenarnya menghadapi tekanan ekonomi yang tidak kecil. Seperti halnya cicilan, gaya hidup konsumtif, hingga ketidakpastian pekerjaan di era digital, semuanya ikut membentuk lanskap baru yang membuat posisi kelas menengah terasa semakin rapuh.

Figur publik Timothy Ronald kembali menjadi sorotan setelah menyampaikan pandangannya mengenai perubahan ini. Dalam salah satu videonya, ia menilai tak sedikit orang belum sepenuhnya menyadari adanya perubahan besar dalam sistem ekonomi global yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari.

Ia menyoroti generasi sebelumnya masih memiliki peluang untuk hidup nyaman dengan pekerjaan yang relatif stabil. Namun saat ini, kondisi tersebut dinilai sudah jauh berbeda, terutama karena kenaikan harga kebutuhan hidup tidak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan.

"Era Anda ibaratnya bisa hidup nyaman sebagai kelas menengah, kerja biasa aja untuk dapat rumah dan punya satu mobil, itu sudah hilang,” ujar Timothy dalam keterangan persnya yang diterima VOI, Senin, 20 Maret.

Menurut Timothy, perubahan ini juga memengaruhi cara pandang terhadap kepemilikan aset. Ia menilai ke depan akan semakin banyak orang yang kesulitan memiliki aset besar seperti rumah atau kendaraan, dan cenderung beralih ke sistem sewa.

"Dunia ini akan dibagi menjadi dua kelas yaitu kelas para elit dan kelasnya budak,” ucapnya.

Ia juga menyinggung perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, yang dinilai berpotensi mengubah lanskap pekerjaan. Pekerjaan berbasis digital yang selama ini dianggap aman justru menjadi salah satu yang paling rentan tergantikan.

Selain itu, ia mengingatkan tidak sedikit orang yang terlihat mapan di permukaan, tetapi sebenarnya memiliki beban finansial yang cukup besar. Kondisi ini membuat posisi kelas menengah menjadi semakin tidak stabil.

Melalui pernyataannya, Timothy Ronald berharap generasi muda dapat lebih sadar terhadap perubahan yang terjadi dan mulai menyesuaikan pola pikir serta strategi hidup agar tetap relevan di tengah dinamika zaman yang terus berubah.