Bagikan:

JAKARTA – Perjalanan sosial ke Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggalkan kesan mendalam bagi Shaloom Razade.

Putri dari Wulan Guritno ini mengaku mendapatkan tamparan keras setelah melihat langsung ketimpangan fasilitas pendidikan namun tetap diiringi semangat belajar yang tinggi dari anak-anak di sana.

Shaloom mengungkapkan bahwa sebagai representasi generasi muda yang tinggal di kota besar, dirinya jarang terpapar dengan realitas kehidupan yang serba terbatas.

"Mungkin kalau dari aku perspektif anak yang lebih muda ya, generasi yang lebih muda, kita nggak pernah ter-ekspos dengan keadaan yang kayak gitu," ujar Shaloom dalam sebuah acara di Senayan, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Keadaan tersebut membuat Shalom melakukan refleksi diri yang cukup tajam. Ia merasa selama ini kurang bersyukur atas kemudahan yang dimilikinya.

"Karena ya mungkin selama ini aku tuh sangat nggak grateful ya, dan aku ketampar banget karena dengan fasilitas yang sangat tidak layak mereka tuh masih semangat banget," tuturnya dengan penuh emosi.

Bagi Shalom, semangat anak-anak di pelosok NTT jauh melampaui dirinya saat masih duduk di bangku sekolah dahulu.

"Bahkan dulu waktu aku sekolah ada malasnya ada apa gitu. Kita jadi ketampar banget dan mereka juga masih grateful dan mereka bahagia ngejalaninnya," lanjutnya lagi.

Pengalaman ini pun membuka mata Shalom untuk lebih peduli dan mulai berbagi kebaikan.

"Jadinya aku ketampar dan juga terbuka dalam arti kita bisa kok berbagi kebaikan dengan mereka yang kurang punya. Ini salah satu cara mungkin untuk mengekspos keadaan teman-teman kita di luar sana untuk anak muda lebih aware," harapnya.

Melihat perubahan sang anak, Wulan Guritno turut membagikan cerita menarik di balik keputusan Shalom menjadi sponsor anak. Wulan bercerita bagaimana ia mencoba membandingkan gaya hidup Shalom di Jakarta dengan biaya bantuan untuk anak-anak di NTT.

"Pulang dari sana, aku tanya uang jajan berapa? Makan di restoran berapa? Cokelat jangan bohong jangan munafik ya kan," kenang Wulan.

Wulan mencoba memberi pengertian kepada Shalom bahwa uang yang seringkali dihabiskan untuk kesenangan sesaat bisa sangat berarti bagi masa depan anak-anak di sana.

"Bayangin anak itu uang segitu bisa buat apa berapa lama, Kak. Terus akhirnya dia terpanggil akhirnya dia ngasuh anak sekarang," ungkap Wulan bangga.

Keputusan Shaloom ternyata memberikan efek domino di dalam keluarganya sendiri. Adik Shalom, Landon, bahkan menyatakan keinginan serupa untuk menyisihkan uang jajannya.

"Si Landon pengen juga ngasuh anak dan bilang, 'Uang jajan aku boleh nggak Ma, setengah Mama kasih aku setengah lagi buat...' tapi dia belum punya KTP jadi belum bisa," tambah Wulan.