Bagikan:

JAKARTA - Kebiasaan merokok masih menjadi salah satu tantangan besar dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat. Meski berbagai kampanye bahaya rokok terus digaungkan, banyak perokok merasa sulit menghentikan ketergantungan nikotin.

Padahal, ada momen tertentu yang bisa dimanfaatkan sebagai titik awal perubahan, salah satunya saat menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan.

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Tjandra Yoga Aditama, mendorong masyarakat memanfaatkan bulan suci sebagai kesempatan berhenti merokok secara total.

“Para perokok yang berpuasa akan berhenti merokok sejak sahur sampai berbuka puasa. Masyarakat luas agar memanfaatkan momentum bulan suci Ramadan tahun ini untuk berhenti merokok sepenuhnya,” kata Prof. Tjandra

Mantan Direktur Penyakit Menular di World Health Organization (WHO) Asia Tenggara itu menjelaskan bahwa asap rokok mengandung ribuan senyawa kimia berbahaya.

“Ratusan jenis di antaranya merupakan zat beracun dan berhubungan dengan kejadian puluhan penyakit, dari kepala sampai ke kaki,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa dampak rokok tidak hanya dirasakan oleh perokok aktif, tetapi juga orang di sekitarnya. Dalam suasana ibadah, setiap individu seharusnya menghindari perilaku yang dapat mengganggu kesehatan dan kenyamanan orang lain.

Menurut Prof. Tjandra, selama Ramadhan para perokok sebenarnya telah membuktikan diri mampu menahan diri dari sahur hingga berbuka. Kebiasaan tidak merokok dalam rentang waktu tersebut sebaiknya diteruskan hingga malam hari dan seterusnya.

Ia menekankan pentingnya membangun niat kuat untuk berhenti serta menolak godaan kembali merokok. Anggapan bahwa seseorang tidak bisa bekerja tanpa rokok pun dinilainya keliru.

“Artinya, memang tidak benar pendapat bahwa harus merokok dulu baru bisa bekerja, pengalaman nyata di bulan puasa ini membuktikan sebaliknya,” tutur Adjunct Professor di Griffith University tersebut.

Prof. Tjandra juga tidak menganjurkan kebiasaan langsung merokok saat berbuka puasa. Menurutnya, kondisi tubuh yang relatif lemah setelah seharian menahan lapar dan haus justru dapat semakin terbebani jika langsung terpapar zat berbahaya dari rokok.

Waktu berbuka sebaiknya dimanfaatkan untuk mengonsumsi makanan dan minuman bergizi, bukan mengawali kembali kebiasaan merokok. Ia menambahkan bahwa keberhasilan menahan diri selama Ramadhan menunjukkan bahwa ketergantungan rokok sebenarnya dapat dikendalikan.

“Berhenti merokok di bulan Ramadhan akan memberi manfaat bagi kesehatan dan kehidupan serta lingkungan,” ujarnya.

Dengan komitmen yang konsisten, momentum Ramadhan dapat menjadi langkah awal menuju hidup yang lebih sehat dan bebas asap rokok.