JAKARTA – Galeri Indonesia Kaya (GIK) mengawali tahun 2026 dengan sebuah gebrakan inklusif. Melalui pementasan bertajuk "Jemari Kecil", komunitas Fantasi Tuli menghadirkan teater musikal Tuli pertama di Indonesia yang memadukan talenta seniman Tuli dan dengar dalam satu harmoni panggung.
Sinopsis Jemari Kecil: Menemukan Ritme dalam Kesunyian
Pertunjukan berdurasi 90 menit ini menyoroti kisah Mentari, seorang penari Tuli yang kehilangan arah setelah kepergian ayahnya. Pertemuannya dengan Awan, seorang produser musik, menjadi titik balik Mentari dalam memaknai ulang gerak dan ekspresi.
Tanpa batas bahasa lisan, "Jemari Kecil" berkomunikasi melalui:
Bahasa Isyarat yang puitis.
Gerak Tari yang emosional.
Visual dan Musik yang inklusif.
Kolaborasi Inklusif di Balik Layar
Pementasan ini bukan sekadar hiburan, melainkan bukti nyata bahwa seni tidak mengenal batas pendengaran. Renitasari Adrian, Program Director Galeri Indonesia Kaya, menyatakan bahwa kolaborasi ini adalah bentuk kekayaan seni yang saling melengkapi.
"Kami percaya seni adalah ruang temu. Kehadiran Fantasi Tuli di GIK diharapkan membuka perspektif baru bagi penonton mengenai karya yang lahir dari pengalaman keberagaman," ujar Renitasari.
BACA JUGA:
Kekuatan Tim Kreatif Fantasi Tuli
Keunikan "Jemari Kecil" terletak pada proses produksinya yang setara:
Sutradara: Kolaborasi antara Hasna Mufidah (seniman Tuli) dan Dhea Seto (seniman dengar).
Naskah: Ditulis oleh Pascal Meliala bersama Palka Kojansow.
Pemain: Melibatkan lintas generasi dari usia 12 hingga 43 tahun.
Pascal Meliala menekankan bahwa tantangan utama bukanlah keterbatasan fisik, melainkan bagaimana menciptakan cerita yang menghibur. "Dengan akses dan lingkungan yang tepat, semua hal bisa dilakukan," tambahnya.