JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan mulai melirik potensi besar diaspora di Belanda sebagai ujung tombak diplomasi budaya. Salah satu fokus utamanya adalah pengembangan Pencak Silat yang kini tengah diperjuangkan agar tidak hanya dikenal sebagai olahraga, tetapi juga sebagai identitas budaya yang mendalam.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai kedekatan emosional warga keturunan Indonesia di Belanda terhadap budaya leluhur sangat kuat, namun belum dimanfaatkan secara optimal.
"Potensi ini besar untuk diplomasi budaya jika dikelola serius dan berkelanjutan," ujar Fadli dalam pertemuan dengan perwakilan Nederlandse Pencak Silat Federatie (NPSF).
Kekuatan 2,5 Juta Diaspora
Data NPSF menunjukkan fakta yang mencengangkan: sekitar 20 persen penduduk Belanda memiliki garis keturunan Indonesia. Angka ini setara dengan 2 hingga 2,5 juta orang.
Jumlah yang masif ini dinilai sebagai basis massa yang sangat kuat untuk memperkenalkan wajah Indonesia di panggung internasional melalui Pencak Silat, keris, hingga wayang.
BACA JUGA:
Melawan Arus "Hanya Olahraga"
Dalam pertemuan tersebut, Bradley dari NPSF mengungkapkan tantangan yang dihadapi di luar negeri. Saat ini, Pencak Silat lebih sering dilihat hanya dari dimensi olahraga atau bela diri fisik semata. Hal ini dikhawatirkan menggerus nilai-nilai filosofis dan budaya yang terkandung di dalamnya.
Menjawab tantangan itu, NPSF tengah menyiapkan:
Kurikulum Berbasis Budaya: Silat akan diajarkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler di tingkat SD hingga menengah di Belanda.
Pendidikan Karakter: Fokus utama bukan sekadar bertarung, melainkan penanaman nilai tradisi dan karakter.
Inklusivitas: Menghormati berbagai aliran, termasuk aliran Cimande yang sudah populer di sana.
Dukungan 'Dana Indonesiana' 2026
Menteri Fadli Zon menegaskan komitmen pemerintah untuk mendukung gerakan ini secara konkret. Ia mengungkapkan bahwa pemerintah akan kembali membuka skema Dana Indonesiana pada Februari 2026.
Skema dana abadi kebudayaan ini dapat dimanfaatkan oleh komunitas kebudayaan dan diaspora untuk membiayai kegiatan yang berkaitan dengan warisan budaya takbenda yang telah diakui UNESCO, termasuk Pencak Silat.
"Ini adalah dukungan nyata agar pengetahuan tentang tradisi tetap hidup dan memiliki ekosistem yang berkelanjutan di luar negeri," tegas Fadli.