JAKARTA - Generasi Z atau gen Z sering mencuri perhatian dengan kebiasaan unik mereka. Belakangan kebiasaan unik mereka yang menuai sorotan adalah membiarkan akun media sosial pribadi dengan postingan kosong.
Kebiasaan tersebut dikenal dengan istilah zero post, yang pertama kali dicetuskan oleh penulis esai Kyle Chayka. Istilah ini digunakan saat Kyle menyoroti bagaimana ritual berbagi kabar secara daring menjadi langka.
“Kita mungkin juga sedang menuju sesuatu seperti zero post, titik di mana orang-orang biasa, masyarakat awam yang tidak profesional dan tidak terkomersialkan berhenti berbagi hal di media sosial karena mereka merasa bosan dengan kebisingan,” kata Kyle dikutip dari BBC, pada Selasa, 9 Desember 2025.
Kyle berpendapat bahwa fenomena zero post bisa menandakan berakhirnya media sosial, yakni masa di mana orang tidak lagi menggunakan media sosial untuk berbagi kabar di secara daring.
Kemudian tren zero post semakin diterapkan oleh para gen Z pada aktivitas media sosial mereka. Padahal, sebelumnya gen Z dikenal tidak peduli dengan privasi dan senang mengunggah apa pun di internet.
Namun, perubahan kebiasaan pada gen Z terjadi, di mana mereka mulai enggan mengunggah sesuatu di media sosial setelah mengalami kejenuhan. Sejak lahir, mereka telah terpapar dengan akses internet dan menganggap bahwa internet adalah satu-satunya sumber komunikasi.
BACA JUGA:
Sampai akhirnya, jenis koneksi tersebut mengikis keterampilan percakapan di dunia nyata, sehingga mereka memutuskan untuk mundur dari aktivitas aktif secara daring.
“Saya rasa media sosial telah menjadi kurang sosial. Media sosial lebih tentang mengonsumsi konten yang sangat dikomersialkan ini,” tuturnya.
Banyak juga gen Z yang merasa bahwa media sosial saat ini berisi tentang aspirasi gaya hidup, bukan tentang apa yang terjadi di sekitar mereka. Hal ini dinilai menghilangkan esensi dari tujuan media sosial.
“Jika platform-platform tersebut kehilangan kendali atas kehidupan normal masyarakat dan orang-orang biasa tidak lagi merasa terdorong untuk mengunggah konten, maka media sosial akan menjadi seperti televisi,” pungkasnya.