Bagikan:

JAKARTA – Komunitas pecinta dan pemerhati film, DemiFilm Indonesia (dFI), genap berusia 12 tahun menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi perfilman nasional sekaligus mengkampanyekan budaya sensor mandiri.

Acara yang diawali dengan doa bersama untuk Sumatera dan seluruh warga dFI, mencerminkan solidaritas keluarga besar komunitas tersebut.

Ketua Umum Yayasan DemiFilm Indonesia (YDFI), Yan Widjaja, dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukurnya atas perjalanan lebih dari satu dekade dFI.

Menurutnya, dFI kini telah bertransformasi lebih dari sekadar komunitas, melainkan menjadi keluarga besar yang menaungi berbagai elemen, mulai dari stakeholder Badan Perfilman Indonesia (BPI), produser, sutradara, jurnalis, hingga Key Opinion Leader (KOL).

"Sinergi dan kolaborasi itu nyata dari waktu ke waktu. Kini dFI sudah 12 tahun. Selain kampanye #KamisKeBioskop dan laporan tiket, program kami berkembang dari B2S menjadi B3S (Bincang-Bincang Budaya Sinema) yang akan hadir di 9 kota pada tahun 2025, termasuk rencana kunjungan ke sekolah-sekolah di Banten pada Desember ini," papar Yan Widjaja di kantor Lembaga Sensor Film (LSF), Senin, 8 Desember.

Acara diskusi yang dipandu oleh Sekjen YDFI, Kak AruL, menghadirkan pembicara kunci Dr. Naswardi dari LSF dan Dr. Syaifullah selaku Direktur FMS Kementerian Kebudayaan RI.

Dr. Naswardi menekankan pentingnya kolaborasi antara LSF dengan Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI), asosiasi sutradara, dan produser.

"LSF butuh kolaborasi. Semoga sinergi ini terus berlanjut," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua GPBSI, Suprayitno, memaparkan data optimis mengenai pertumbuhan layar lebar di Indonesia. Ia memproyeksikan pertumbuhan bioskop sebesar 8-10% hingga akhir 2025 dan berlanjut ke 2026.

"Dari 502 bioskop akan bertambah 3 lagi menjadi 505 bioskop, tumbuh merata di hampir seluruh Nusantara. GPBSI sangat terbuka dengan penambahan bioskop, apalagi perijinan kini sangat mudah dan Daftar Negatif Investasi (DNI) sudah dibuka lebar. Investor asing dari Amerika, Korea, Jepang, Brasil, atau India sangat dimungkinkan untuk masuk," jelas Suprayitno.

Dari sisi konten, Ivan Bandhito yang mewakili sutradara dan alumni IKJ menegaskan bahwa kompetensi SDM perfilman Indonesia sudah mendunia.

Hal ini didukung oleh Budi Yulianto, Eksekutif Produser MBK Production, yang memperkenalkan deretan film produksi mereka untuk tahun 2026, seperti Ghost Soccer, The Bell, serta Ibadah dan Cinta.

Menariknya, Budi melontarkan usulan unik kepada pemerintah. "Saya usulkan selain ada program sarapan bergizi, ada juga program nonton film edukatif dan keluarga di akhir pekan," usulnya.

Ide ini disambut antusias oleh Yan Widjaja yang melihat potensi ruang publik seperti Sarinah atau gerai ritel modern (Indomaret/Alfamidi) untuk disulap menjadi bioskop mini dengan harga tiket yang terjangkau bagi masyarakat.

Dandhy Laksono, filmmaker dokumenter (WatchDoc), turut hadir sebagai panelis. Sosok di balik Dirty Vote ini menyatakan tidak menutup kemungkinan untuk merambah ke film feature bioskop jika ada produser yang berminat.

Dandhy juga memberikan pandangannya mengenai sensor. "Indonesia tetap butuh LSF sebagai penjaga value, moral, dan masa depan anak serta keluarga. Terus terang, saya lebih takut didiskualifikasi atau di-reject YouTube," candanya yang disambut tawa hadirin.

Dandhy mengaku bangga dokumenter kini makin diperhitungkan dalam ekosistem perfilman nasional melalui wadah seperti dFI.