Bagikan:

JAKARTA - Telur merupakan salah satu sumber protein paling populer di dunia. Di antara berbagai jenis telur yang ada, telur ayam mendominasi pasar dan menu sehari-hari masyarakat.

Sementara itu, telur kalkun jarang dikonsumsi, meskipun kalkun sendiri cukup umum sebagai sumber daging. Lantas mengapa telur kalkun tidak sepopuler telur ayam? Ada beberapa faktor yang memengaruhi hal ini, mulai dari biologis hingga budaya.

Berbeda dengan ayam yang biasanya bertelur sekitar satu butir setiap 24 jam, kalkun hanya menghasilkan satu atau dua butir telur per minggu.

"Kalkun memiliki siklus hidup yang lebih panjang, sehingga mereka baru bisa mulai bertelur pada usia sekitar tujuh bulan," ujar Kimmon Williams dari National Turkey Federation mengatakan kepada ModernFarmer, dikutip dari laman Daily Mail.

Sementara itu, ayam hanya perlu berusia sekitar lima bulan sebelum mulai bertelur.

Memelihara kalkun juga lebih mahal karena mereka membutuhkan lebih banyak pakan dan kandang yang lebih besar, yang secara otomatis meningkatkan biaya produksi. Akibatnya peternak harus membanderol minimal 3 dolar AS atau Rp49 ribu per butir telur kalkun, sehingga satu lusin bisa mencapai sekitar 36 dolar AS atau Rp598 ribu.

Beberapa koki mengatakan telur kalkun lebih cocok untuk saus karena kuning telurnya lebih creamy dan kaya rasa, seperti yang dilaporkan Slate. Namun keunggulan ini belum cukup untuk membuat telur kalkun masuk ke menu sehari-hari.

Kalkun berasal dari Amerika Utara dan menjadi makanan pokok bagi suku-suku asli Amerika, sementara ayam baru tiba di Amerika Serikat pada abad ke-1500-an. Penduduk asli Amerika  memperkenalkan kalkun kepada para pemukim Eropa awal pada tahun 1600-an.

Burung besar dan liar ini merupakan hewan eksotis bagi orang Eropa, yang langsung menjadi penggemarnya. Penjelajah Spanyol awal yang datang ke Dunia Baru membawa pulang kalkun, meskipun muncul rumor bahwa telur kalkun bisa menyebabkan lepra.

Kecurigaan ini sebagian besar berasal dari orang Prancis yang waspada terhadap asal-usul burung tersebut. Pada masa Eropa abad pertengahan, penyakit seperti lepra sering dianggap sebagai hukuman ilahi atau akibat kesalahan moral, dan makanan baru dari beberapa daerah tidak sesuai dengan norma yang ada.

Namun di Amerika, para pemukim awal justru memandang telur kalkun sebagai barang mewah. Pada abad ke-18, popularitasnya di AS meningkat hingga peternakan kalkun domestik menjadi umum. Misalnya restoran ikonik Delmonico’s di New York pernah menyajikan telur kalkun dengan cara diorak-arik, direbus, atau dijadikan frittata dan omelet.

Namun perkembangan peternakan ayam industri pada abad ke-20 mengubah pola konsumsi makanan di Amerika. Teknologi baru memungkinkan peternak untuk fokus pada ayam untuk produksi telur atau daging, sehingga telur ayam menjadi lebih murah dan mudah didapat. Akibatnya telur kalkun mulai kehilangan popularitas, bahkan Delmonico’s akhirnya menghapusnya dari menu.

Saat ini, telur kalkun menjadi barang langka, dicari terutama oleh pecinta kuliner atau peternak yang ingin memenuhi permintaan kalkun.