JAKARTA - Kreator konten Fujianti Utami Putri, atau yang akrab disapa Fuji, kembali dihadapkan pada cobaan berat. Ia harus menelan pil pahit saat mengetahui beberapa karyawan kepercayaannya diduga melakukan penggelapan dana hingga miliaran rupiah.
Ibunda Fuji, Dewi Zuharti, mengungkapkan betapa terpukulnya sang putri atas kejadian ini. Kekecewaan Fuji bukan hanya karena kerugian materi, melainkan karena pengkhianatan dari orang-orang yang telah ia perlakukan seperti keluarga.
Publik mengenal Fuji sebagai sosok yang sangat loyal dan baik kepada timnya. Ia tak segan memberikan hadiah mahal seperti earphone mewah hingga uang segepok sebagai bentuk apresiasi.
"Dia misalnya dapat bonus, dikasih. Hadiah ulang tahun, semuanya kawan-kawan itu dikasih tuh hadiah sama dia," cerita Dewi Zuharti dalam acara Rumpi No Secret, Senin, 1 Desember.
H. Faisal, ayah Fuji, menambahkan bahwa putrinya memperlakukan karyawan layaknya saudara. "Kalau dia... 'Mobil, saya mau pulang kampung.' Ya udah lu pakai mobil," ungkapnya.
Namun, kebaikan itu justru dibalas dengan pengkhianatan. Hal yang paling menyakitkan bagi Fuji adalah saat ia menemukan adanya grup chat rahasia di mana para karyawannya itu menjelek-jelekkan dirinya.
BACA JUGA:
"Dalam grup ada grup lagi gitu, ngejelekin dia. Padahal dianya digorok sendiri kan (oleh mereka). Jadi di situlah dia kecewa banget," lanjut Dewi Zuharti.
Kasus penggelapan dana yang dialami Fuji ternyata tidak dilakukan oleh satu orang, melainkan oleh sebuah komplotan yang terdiri dari 2 hingga 3 karyawannya. Mereka bekerja sama secara sistematis untuk menggerogoti penghasilan Fuji dari pekerjaan endorsement.
Dewi Zuharti, membeberkan modus operandi yang digunakan oleh para pelaku. Otak dari komplotan ini adalah asisten pribadi Fuji yang bertugas menerima tawaran endorse.
"Ya modusnya, yang pertamanya itu yang asistennya itu kan nerima endorse itu. Jadi dia nggak makan sendiri," jelas Dewi Zuharti.
Uang pembayaran dari klien tidak langsung masuk ke rekening Fuji. Pelaku utama justru mentransfernya ke rekening pribadi yang ia buat, lalu membaginya dengan rekan-rekan komplotannya.
"Nanti di-TF (transfer) ke sini, TF ke sini gitu. 'Nih dibagi segini, dibagi segini'," lanjutnya.
Dengan cara ini, pekerjaan yang seharusnya menjadi pendapatan Fuji, justru dinikmati oleh para pelaku tanpa sepengetahuannya. "Yang itu nggak masuk ke rekening Fuji," tegas Dewi.
Akibat dari modus ini, total kerugian yang dialami Fuji ditaksir mencapai angka miliaran rupiah. "Ya miliaran. Itu pun masih nggak terbuka semua sebenarnya," ungkap H. Faisal.
Ironisnya, musibah serupa ternyata tidak hanya menimpa Fuji. H. Faisal mengungkapkan bahwa putra keduanya, Frans Faisal, juga baru saja mengalami kejadian serupa dengan karyawannya.
"Ini anak saya si Frans juga kena. Dari karyawannya. Barusan, barusan," kata H. Faisal.
Kejadian beruntun ini menjadi pukulan berat bagi keluarga H. Faisal. Mereka kini harus lebih waspada dan memperketat sistem pengawasan dalam setiap bisnis yang mereka jalankan.