Bagikan:

JAKARTA – Dalam beberapa hari sejak pemerintah China mengimbau warganya untuk tidak berkunjung ke Jepang akibat ketegangan kedua negara, pemandu wisata asal Tokyo, Xie Shanpeng sudah menerima empat pembatalan dari wisatawan China. Meski begitu, lebih dari 90 persen pelanggan lainnya tetap melanjutkan rencana perjalanan mereka.

Xie yang sejak 2013 mengelola bisnis wisata sendiri di Jepang, biasanya menangani antara seribu hingga dua ribu turis China setiap bulan.

“Dampaknya pada November sebenarnya belum terlalu terasa. Hotel dan perusahaan transportasi biasanya menerapkan biaya pembatalan tinggi jika sudah dekat dengan tanggal keberangkatan, jadi membatalkan perjalanan sekarang tidak menguntungkan,” kata Xie kepada The Straits Times.

“Namun untuk permintaan baru, termasuk perjalanan pada libur Tahun Baru Imlek tahun depan, pasti akan terdampak,” tambahnya.

Pembatalan ini muncul akibat reaksi berlanjut dari pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada 7 November di Parlemen Jepang. Ia menyebut Tokyo bisa merespons secara militer jika China menyerang Taiwan.

Pernyataannya, serta keengganannya untuk menarik kembali komentar tersebut, memicu kemarahan Beijing yang menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya.

Kementerian Luar Negeri China menyebut pernyataan tersebut sebagai bentuk campur tangan terang-terangan dalam urusan dalam negeri China dan pada 13 November memanggil duta besar Jepang untuk menyampaikan protes keras.

Sebagai bentuk ketidakpuasan, Beijing mengeluarkan imbauan resmi yang menyarankan warganya untuk tidak melakukan perjalanan wisata maupun pendidikan ke Jepang. Pada 14 November, Kementerian Luar Negeri China merilis pemberitahuan komentar pemimpin Jepang yang sangat provokatif telah merusak suasana hubungan antarwarga kedua negara dan menimbulkan risiko bagi keselamatan warga China di Jepang.

Kementerian Pendidikan China juga mengingatkan para siswa yang berencana belajar di Jepang agar memantau dengan cermat situasi keamanan di sana.

Pada akhir pekan 15–16 November, beberapa maskapai besar China termasuk Air China mengumumkan pengembalian dana penuh bagi penumpang yang membatalkan penerbangan ke dan dari Jepang hingga 31 Desember 2025.

Salah satu operator tur ski di Shenzhen mengatakan enam pelanggannya yang awalnya dijadwalkan liburan ke Hokkaido akhir November membatalkan perjalanan dan memilih ke Xinjiang. Menurutnya keputusan itu tidak mewakili semua wisatawan, karena masih banyak yang tetap melanjutkan rencana perjalanan ski ke Jepang pada awal Desember.

Beberapa agen wisata China menghentikan penjualan paket tur ke Jepang, sementara yang lain memilih bersikap menunggu dan melihat.

Pada 17 November, agen Qinghai Modern International Travel Agency mengunggah pengumuman di WeChat yang menyatakan bahwa mereka menanggapi arahan pemerintah dengan menghentikan semua produk wisata ke Jepang.

Beijing Huatu International Travel Service juga mengatakan kepada media lokal bahwa sementara ini mereka tidak menerima pelanggan yang ingin pergi ke Jepang.

“Untuk penerbangan, hotel, dan visa yang sudah terbit dalam waktu dekat, tentu lebih sulit untuk membatalkannya.” ujar perwakilan perusahaan tersebut.