YOGYAKARTA – Asal usul Kota Surabaya tidak lepas dari cerita rakyat pertarungan dua hewan yaitu Sura dan Baya. Dari dua hewan tersebut kemudian muncul Surabaya. Namun sejarah Surabaya tidak sesederhana itu. Ada peristiwa yang cukup panjang hingga terbentuklah wilayah yang kini menjadi ibu kota provinsi Jawa Timur.
Asal Usul Kota Surabaya
Dilansir dari situs resmi Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, asal usul Surabaya dikaitkan dengan dua hewan yang bernama Baya alias buaya dan seekor hiu bernama Sura. Kedua hewan tersebut saling bermusuhan untuk memperebutkan wilayah kekuasaan serta berebut mangsa.
Sura dan Baya saling bertarung hingga berhari-hari lamanya hingga mengganggu ketentraman makhluk hidup yang lain. Sayangnya tak ada yang berani mengganggu pertikaian kedua hewan kuat tersebut.
Hingga pada suatu ketika Sura dan Baya sama-sama bosan saling berkelahi. Dari rasa bosan itu lahirlah kesepakatan untuk berdamai dan membagi wilayah kekuasaan. Sura mendapat kekuasaan di dalam laut sedangkan baya mendapat kekuasaan di darat. Kesepakatan itu secara otomatis mengatur hewan buruan yang jadi mangsa masing-masing.
Sayangnya Sura dan Baya kembali terlibat konflik karena Sura dituding telah melanggar kesepakatan dengan mencari mangsa di sungai, bukan di laut. Hal itu yang membuat Baya marah dengan Sura. Sura mencoba membela diri dengan mengatakan bahwa sungai termasuk wilayah kekuasaannya karena tidak termasuk daratan. Namun alasan itu tak diterima oleh Baya.
Pada akhirnya Sura dan Baya kembali terlibat perseteruan. Dari perseteruan itu lahirlah nama Surabaya yang kini menjadi nama kota.
Perjalanan Sejarah Kota Surabaya
Meski nama kota Surabaya dikaitkan dengan hewan Sura dan Baya, belum ada sumber sejarah yang bisa mengonfirmasi sejarah pasti kaitan antara asal mula penamaan Surabaya dengan kedua hewan tersebut. Namun ada sumber yang mengatakan bahwa nama Surabaya tercatat dalam sejarah di era kerajaan Majapahit (1293-1500-an).
Melansir dari website resmi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DISPUSIP) Kota Surabaya, eksistensi Surabaya di era kerajaan tidak seperti sekarang. Surabaya dikenal sebagai sebuah desa yang mendapat hak istimewa dari Raja Majapahit yang kala itu dipimpin oleh Hayam Wuruk atau Rajasanagara.
Keistimewaan Surabaya kala itu dijelaskan dalam Prasasti Canggu. Dalam prasasti itu dikatakan bahwa Surabaya ditetapkan sebagai desa istimewa bersama desa lain yang ada di aliran Sungai Brantas dan Bengawan Solo.
Dalam perjalanannya, Surabaya juga sempat berada di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram yang kala itu jadi kekuatan besar di Jawa. Hal itu seperti yang dijelaskan dalam buku Sejarah Pemerintah Kota Surabaya Seiak Masa Kolonial Sampai Masa Reformasi (1906-2012) ditulis oleh Purnawan Basundoro.
BACA JUGA:
Dalam buku dijelaskan bahwa kota Surabaya memang dikenal sebagai wilayah strategis dan menjadi pusat perdagangan. Pasca keruntuhan Mataram di abad ke-17, Surabaya kemudian dikuasai oleh VOC sejak tahun 1705. Di kekuasaan kolonial, Surabaya semakin berkembang menjadi pusat administrasi dan ekonomi penting.
Lalu di tahun 1906, Surabaya akhirnya mendapat status otonomi dan menjadi Gemeente (kotamadya). Status tersebut diberikan berdasarkan Undang-Undang Desentralisasi tahun 1903. Peristiwa tersebut sekaligus menjadi tanda awal pemerintahan modern kota Surabaya.
Itulah informasi terkait asal usul Kota Surabaya. Kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.