Bagikan:

YOGYAKARTA – Teori belajargagne merupakan teori pembelajaran yang dicetuskan oleh pakar psikologi pendidikan dari Amerika Serikat, Robert Mills Gagne. Teori ini pertama kali diperkenalka pada dekade 1960-an.

Menurut Gagne, belajar adalah sebuah perubahan perilaku yang relative menetap yang dihasilkan dari pengalaman masa lalu atau dari pembelajaran yang menyenangkan. Tesis ini membuat Gagne menjadi salah satu tokoh pendidikan yang cukup ternama, serta punya pengaruh besar di bidang pendidikan dan psikologi secara umum.

Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang teori belajar Gagne yang cukup populer di kalangan pendidik. Yuk simak penjelasannya!

Mengenal Teori Belajar Gagne

Dalam teori belajar gagne, pembelajaran diartikan sebagai seprangkat proses yang bersifat internal bagi masing-masing individu dan merupakan hasil transformasi rangsangan dari peristiwa eksternal atau lingkungan/kondisi individu bersangkutan.

Untuk memahami kondisi eksternal tersebut, gagne mengorganisaskan metide belajar menjadi sembilan fase yang juga dkenal sebagai nine instructional event Gagne. Sase pembelajaran tersebut dapat diterapkan oleh para guru untuk membantu proses belajar setiap peserta didik.

Sembilan fase pembelajaran Gagne menguraikan urutan peristiwa untuk meningkatkan kualitas proses belajar dan meningkatkan efektivitasnya. Kesembilan fase tersebut juga dapat membantu guru merancang intruksi belajar secara terstruktur dan sistematis.

Menyadur buku Teori Belajar dan Motivasi karya Suciati dan Prasetya (2001), berikut sembilan fase pembelajaran dalam teori belajar Gagne:

  1. Menarik Perhatian

Pembelajaran dimulai dengan membuat siswa tertarik terlebih dahulu. Guru bisa membuka pelajaran dengan pertanyaan menarik, cerita singkat, gambar, atau masalah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tujuannya sederhana: membuat siswa fokus dan siap belajar.

  1. Menjelaskan Tujuan

Setelah perhatian siswa berhasil ditarik, guru perlu memberi tahu apa saja yang akan dipelajari hari itu. Dengan mengetahui tujuan, siswa bisa memahami arah pembelajaran dan lebih termotivasi untuk mengikuti kegiatan belajar.

  1. Mengingat Pelajaran Sebelumnya

Sebelum masuk ke materi baru, guru membantu siswa mengingat kembali pelajaran yang sudah mereka kuasai. Cara ini memudahkan siswa menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan lama sehingga materi terasa lebih mudah dipahami.

  1. Menyampaikan Materi

Pada tahap ini guru mulai menjelaskan isi pelajaran. Materi harus disampaikan secara runtut dan tidak membingungkan. Penjelasan bisa dibantu dengan gambar, video, cerita, atau contoh sehari-hari agar siswa lebih cepat memahami.

  1. Memberikan Bimbingan

Siswa biasanya membutuhkan arahan tambahan agar benar-benar paham. Guru dapat memberi contoh, ilustrasi, atau tips yang membantu siswa memecahkan masalah. Bimbingan ini membuat siswa lebih percaya diri dan tidak mudah bingung.

  1. Memberikan Kesempatan Berlatih

Setelah memahami materi, siswa harus mencoba mempraktikkannya. Ini bisa berupa latihan soal, kegiatan kelompok, atau tugas singkat. Latihan sangat penting untuk memperkuat pemahaman dan melihat apakah siswa sudah benar-benar mengerti.

  1. Memberi Umpan Balik

Guru kemudian memberikan tanggapan terhadap hasil kerja siswa. Umpan balik membantu siswa mengetahui bagian mana yang sudah benar dan mana yang perlu diperbaiki. Dengan begitu, siswa dapat belajar lebih efektif.

  1. Menilai Hasil Belajar

Guru melakukan penilaian untuk mengukur keberhasilan siswa dalam memahami materi. Bentuknya bisa kuis, tes, atau tugas. Hasil penilaian membantu guru melihat apakah tujuan pembelajaran sudah tercapai.

  1. Membantu Siswa Mengingat dan Menerapkan Materi

Tahap terakhir adalah memastikan siswa tetap mengingat materi untuk jangka panjang dan bisa menerapkannya dalam berbagai situasi. Guru bisa memberikan latihan tambahan, review singkat, atau contoh penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

Tipe Belahar Menurut Gagne

Menurut Gagné, ada delapan tipe belajar yang berkembang secara bertahap. Setiap tahap menjadi fondasi bagi tahap berikutnya, sehingga siswa harus menguasai satu kemampuan sebelum naik ke level selanjutnya. Fokusnya adalah pada hasil belajar, bukan prosesnya.

  1. Belajar Isyarat (Signal Learning)

Tahap paling dasar, yaitu memahami tanda sederhana—misalnya tahu bahwa lampu merah berarti berhenti.

  1. Belajar Stimulus-Respons

Siswa memberikan reaksi terhadap sesuatu yang ditunjukkan, seperti mengulang kata atau angka saat melihat tulisannya.

  1. Belajar Rangkaian Perilaku (Chaining)

Menggabungkan beberapa respons, contohnya menulis angka dari 1 sampai 10 secara berurutan.

  1. Asosiasi Verbal

Menghubungkan kata dan maknanya, seperti menyebut nama benda atau mencari padanan kata dalam dua bahasa.

  1. Diskriminasi Ganda

Belajar membedakan banyak informasi sekaligus, misalnya membaca dan membuat grafik sederhana.

  1. Belajar Konsep

Memahami ciri-ciri umum seperti warna, bentuk, atau ukuran.

  1. Belajar Aturan

Menghubungkan konsep menjadi aturan, seperti mengetahui air mendidih pada 100°C.

  1. Pemecahan Masalah

Tahap tertinggi, yaitu menggunakan semua pengetahuan untuk mencari solusi dari suatu persoalan.

Dengan urutan ini, proses belajar menjadi lebih terarah dan memudahkan siswa berkembang dari kemampuan dasar hingga kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Demikian informasi tentang teori belajar Gagne. Semoga informasi di atas bisa menambah wawasan pembaca. untuk mendapatkan update berita pilihan lainnya, baca terus VOI.ID.

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+