Bagikan:

JAKARTA — Sebuah video viral yang menampilkan seorang wanita paruh baya di Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK), New York, dengan paspor dari negara misterius bernama Torenza, mendadak membuat heboh dunia maya.

Dilansir dari berbagai sumber, dalam sebuah video yang telah ditonton jutaan kali di berbagai platform media sosial itu memicu beragam teori konspirasi, mulai dari dugaan perjalanan antar-dimensi hingga anggapan sebagai hoaks yang rumit.

Setelah ditelusuri, terungkap bahwa video tersebut merupakan hasil rekayasa yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI). Hal ini dikuatkan dengan keterangan jurnalis Latif Kassidi melalui unggahan di akun X (Twitter) pribadinya.

“Jutaan penayangan untuk berita palsu! Kisah viral tentang wanita pemegang paspor Torenza (negara yang tidak pernah ada) yang mendarat di Bandara Internasional John F. Kennedy di New York menimbulkan kekhawatiran tentang disinformasi yang dihasilkan oleh berita buatan kecerdasan buatan (AI),” tulis Latif Kassidi, dikutip VOI.

Dalam video yang beredar, seorang wanita yang baru tiba dari Tokyo tampak biasa saja saat menyerahkan paspor “Torenza” kepada petugas imigrasi. Ketika ditanya, ia menjelaskan bahwa negaranya terletak di wilayah Kaukasus, jawaban itu ternyata cukup membuat petugas kebingungan.

Paspor tersebut terlihat sangat meyakinkan, lengkap dengan fitur canggih seperti chip biometrik, hologram, bahkan stempel dari negara-negara lain yang juga tidak dikenal.

Video yang dikemas layaknya laporan berita itu dengan cepat menyebar di TikTok dan X, memicu pendapat di kalangan warganet. Tak heran akhirnya beberapa warganet yang mengaitkannya dengan legenda urban “Pria dari Taured”, kisah tahun 1954 tentang seorang pria yang tiba di bandara Tokyo dengan paspor dari negara yang tidak pernah ada.

Meski sempat menimbulkan kehebohan, ahli pemeriksa fakta sudah memastikan kalau video tersebut merupakan hoaks yang dibuat dengan bantuan AI. Lebih lanjut, pihak Bandara JFK maupun Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS menegaskan tidak memiliki catatan resmi mengenai insiden semacam itu.

Dengan kecerdasan buatan yang semakin ahli dalam membuat konten artifisial, pengguna internet kembali harus dihadapkan dengan tantangan misinformasi. Jika narasi bisa dibuat untuk memoles sebuah kebohongan, suguhan visual yang ternyata palsu akan mematahkan teori 'seeing is believing' lebih jauh lagi.