JAKARTA - Kisah viral Ipar Adalah Maut yang mengguncang media sosial kini diadaptasi menjadi sebuah serial yang sangat dinantikan. Dibintangi oleh Tatjana Saphira, serial ini menjanjikan eksplorasi karakter yang mendalam dan drama keluarga yang kompleks.
Di sisi lain, produser Manoj Punjabi menyiapkan inovasi baru dengan meluncurkan serial ini serentak di platform yang berbeda, MDTV dan Netflix.
Bagi Tatjana Saphira, mengambil peran dalam proyek besar ini adalah sebuah keputusan yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Popularitas cerita yang sudah begitu luas menjadi daya tarik utamanya.
"Pertanyaannya mungkin harusnya, kenapa tidak? gitu. Karena kan siapa sih yang nggak tahu cerita 'Ipar Adalah Maut'?" ungkap Tatjana Saphira di kawasan Jakarta Selatan, Rabu, 1 Oktober.
Namun, ketertarikannya tidak hanya berhenti pada popularitas. Ia melihat ada lapisan cerita yang jauh lebih dalam dari sekadar isu perselingkuhan. Menurutnya, kisah ini sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan yang relevan.
"Menurut aku, lebih dari drama tentang perselingkuhan, ceritanya tuh punya banyak banget nilai soal, apa ya, kayak kemanusiaan, tentang ikatan keluarga, tentang komitmen, tentang kepercayaan," jelas Tatjana Saphira.
Karakter Nisa yang ia perankan juga menjadi tantangan tersendiri. Ia melihat Nisa sebagai sosok perempuan kuat yang penuh cinta, sebuah kompleksitas yang menarik untuk dieksplorasi.
"Dan karakter Nisa pun tuh juga menurutku sangat menarik untuk dieksplor dan menjadi suatu tantangan juga buat aku. Karena di sini, Nisa itu karakternya kan sebenarnya dia perempuan yang kuat, yang sangat penuh cinta terhadap semua yang ada di sekitar dia, mulai dari ibunya, adiknya, suaminya, anaknya, dia pengen memberikan yang terbaik," katanya.
BACA JUGA:
Membawakan karakter dari cerita yang sudah dikenal luas tentu bukan tanpa tekanan. Tatjana mengakui adanya beban yang ia rasakan selama proses produksi.
"Kalau bilang enggak ada beban sih itu berarti kayak bohong ya, pasti adalah bebannya sedikit," beber Tatjana Saphira.
Meski begitu, ia menjelaskan bahwa proses diskusi intensif dengan sutradara, Hanung Bramantyo, sangat membantunya dalam membentuk karakter Nisa versinya.
"Tapi kan sebelum syuting sempat banyak diskusi juga sama Mas Hanung dan ya emang karena yang memerankan juga beda ya, karakternya juga disesuaikan sama kita gitu," lanjutnya.
Pada akhirnya, seluruh proses ini menjadi sebuah pengalaman belajar yang sangat berharga baginya. "Jadi ya ini proses kreatif yang cukup menarik, menantang dan aku rasa aku banyak banget belajar selama mengerjakan project 'Ipar Adalah Maut The Series' ini," tambah Tatjana Saphira.
Di sisi produser, Manoj Punjabi dari MD Entertainment mengumumkan sebuah langkah strategis yang inovatif. Peluncuran Ipar Adalah Maut The Series menjadi momentum penting bagi MD Entertainment.
"Jadi, hari ini kita launching Ipar Adalah Maut The Series yang akan tayang di MDTV dan Netflix serentak. Ini sesuatu yang baru, ya. Jadi ini launching, ini bisa dibilang grand launching-nya MDTV. TV paling drama atau paling drama. Jadi bagi saya ini sesuatu yang beda ya, MD akan terus berinovasi," jelas Manoj Punjabi.
Lebih dari itu, Manoj menegaskan visinya untuk mengubah lanskap industri televisi di Indonesia. Ia ingin meningkatkan standar sinetron konvensional menjadi serial dengan kualitas produksi yang lebih terkontrol dan penceritaan yang matang.
"Enggak sekadar, oke, free to air artinya sinetron. No, kita mau naikin level sinetron jadi series. Bukan series yang 6, 8, 10, tapi 30, 40, 50, 70. Jadi lebih terkontrol series-nya selesai," ujarnya.
Dengan standar baru ini, ia berharap dapat memberikan tontonan yang tidak hanya mengejar rating, tetapi juga kualitas yang diapresiasi penonton, sekaligus membuka potensi untuk musim-musim berikutnya.
"Nanti mudah-mudahan dapat tanggapan positif, potensi season 2. Jadi sinetron tapi bukan sekadar apa ya, kejar rating, tapi kita sudah punya standar, ya. Diterima sebaik apa, mudah, mudah-mudahan diterima dengan baik," harapnya.