JAKARTA - Kemerahan pada mata sebaiknya tidak dianggap sepele, karena bisa menjadi tanda terjadinya uveitis. Uveitis adalah peradangan di dalam mata, khususnya pada area uvea, yakni lapisan tengah mata yang meliputi iris, badan siliaris, dan koroid.
Uveitis berpotensi menyerang semua kelompok umur, terutama pada kalangan usia produktif (20-60 tahun). Di Indonesia, uveitis dipicu dua penyebab terbanyak yakni penyakit infeksi sistemik seperti tuberkolosis dan toksoplasma, serta autoimun.
Namun parahnya, studi yang dipublikasikan di National Library of Medicine menunjukkan bahwa 48-70 persen kasus uveitis tergolong idiopatik atau tidak diketahui penyebabnya secara pasti.
“Uveitis bukan sekadar peradangan mata biasa. Banyak penyandangnya yang minum mengalami gejala dini. Ketidaktahuan yang membuat pasien kerap terlambat memeriksakan matanya,” kata Dokter Sub Spesialis Ocular Infection and Immunology, JEC Eye Hospitals and Clincis, Dr. Eka Octaviani Budiningtyas, saat konferensi pers di kawasan Menteng, Jakarta, pada Rabu, 17 September 2025.
Terdapat empat tipe uveitis, mulai dari anterior atau peradangan di bagian depan uvea, intermediate peradangan di bagian tengah uvea, posterior peradangan di bagian belakang uvea, dan panuvetis peradangan di bagian depan dan belakang uvea.
Gejala umum uveitis adalah mata merah (termasuk yang disertai rasa nyeri), penglihatan kabur atau berbayang, munculnya floaters atau bintik dan bayangan kecil yang tampak melayang, dan photophobia atau pandangan yang sensitif terhadap cahaya.
Jika sudah muncul gejala-gejala tersebut dan tidak segera ditangani, uveitis bisa berkembang menjadi gangguan mata yang lebih serius. Kondisi ini bahkan bisa menyebabkan kebutaan mata permanen.
“Tanpa penanganan yang tepat, uveitis bisa mengarah pada gangguan mata yang lebih serius, seperti katarak, glaukoma, kerusakan retina, hingga berujung pada kebutaan permanen. Deteksi dini dan penanganan segera menjadi solusi terefektif untuk menghindari konsekuensi lebih lanjut,” jelasnya.
BACA JUGA:
Untuk penanganan uveitis dimulai dengan pemeriksaan oftalmologi lengkap menggunakan slit-lamp, disertai pencitraan mata, dan tes darah untuk mengidentifikasi akar penyebabkan. Serangkaian pemeriksaan mata terkait uveitis ini dapat dilakukan di JEC Eye Hospitals and Clinics.
Seperti di cabang RS Mata JEC Menteng, penanganan retina tersentralisasi termasuk untuk uveitis melalui JEC Retina Center dilengkapi pemeriksaan diagnostik berteknologi tinggi, yang akan sangat membantu proses diagnosis dan pemulihan pasien.
“Sebagai pusat rujukan retina nasional, RS Mata JEC Menteng berupaya untuk mewujudkan komitmen besar JEC dalam mengoptimalisasi penglihatan dan kualitas hidup masyarakat. Melalui JEC Retina Center, kami memberikan penanganan retina dengan pendekatan komprehensif yang menggabungkan keahlian medis yang teruji dan didukung dengan teknologi canggih,” pungkas Direktur Utama RS Mata JEC Menteng, Dr. Referano Agustiawan, SpM(K).