JAKARTA - Gas air mata pada umumnya digunakan untuk membubarkan massa aksi demo, seperti yang terjadi beberapa hari belakangan di Indonesia. Namun, penggunaan gas air mata dapat menimbulkan masalah pada orang yang terpapar langsung.
Seseorang yang terkena atau menghirup gas air mata dapat merasa tidak nyaman, misalnya terasa perih atau terbakar pada area hidung dan mata. Gas air mata juga dapat menyebabkan iritasi pada mulut, tenggorokan, kulit, hingga paru-paru untuk sementara.
Dikutip dari Healthline, pada Jumat, 29 Agustus 2025, efek tersebut terjadi karena kandungan kimia dalam gas air mata. Gas air mata mengandung senyawa bervariasi, yang paling umum digunakan di antaranya choloroacetophenone (CN) dan chlorobenzylidenemalonontrille (CS).
Zat-zat kimia pada gas air mata itu berkaitan dengan reseptor TRPA1 dan TRPV1. Keduanya termasuk reseptor rasa nyeri sehingga akan menimbulkan rasa tidak nyaman ketika reseptor berikatan dengan zat tertentu.
Tingkat keparahan gejalanya yang dirasakan tergantung dari beberapa faktor. Mulai dari jarak dengan gas air mata, hingga jumlah gas air mata yang digunakan.
Jika berhadapan dengan gas air mata, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menjaga tubuh dari paparannya, sebagai berikut:
BACA JUGA:
1. Sebisa mungkin menjauhi area gas air mata dilepaskan dan mendapatkan udara segar.
2. Untuk meminimalkan paparan gas air mata, tutupi mata, hidung, dan kulit semaksimal mungkin.
3. Jika gas air mata menyebabkan mata terasa terbakar, maka basuh mata menggunakan air selama 10 sampai 15 menit. Rasa perih biasanya akan hilang setelah 20 menit.
4. Ganti pakaian yang terkontaminasi dan mandi untuk menghilangkan partikel yang menempel di kulit, agar terhindar dari iritasi.
5. Apabila mengalami keluhan makin berat, maka sebaiknya mengunjungi layanan kesehatan untuk penanganan lebih lanjut.