Bagikan:

JAKARTA - Aktor muda berbakat, Giulio Parengkuan, mengungkapkan ketertarikannya yang mendalam pada proses pembangunan karakter yang kompleks, terutama saat memerankan tokoh Jodas dalam proyek film Labinak.

Baginya, kesempatan untuk mendalami sisi psikologis sebuah karakter merupakan sesuatu yang telah lama ia nantikan.

"(Karakternya) menarik karena karakter yang kumainkan itu Jodas, dia memiliki background approach-nya psychological, gitu," kata Guilio Parengkuan kepada VOI belum lama ini.

Ia mengaku bahwa peran dengan sentuhan psikologis adalah sesuatu yang sempat ia bayangkan sebelumnya.

"Dan sebelumnya gue sempat kebayang lah pengin ngebayangin karakter yang ada sentuhan, sentuhan arah situ, psychological. Dan, ya udah deh," lanjutnya.

Dalam proses pendalaman karakternya, Giulio tidak hanya bergantung pada naskah semata. Ia melakukan elaborasi dan membiarkan dirinya terinspirasi dari berbagai sumber, termasuk adegan-adegan dari film lain.

Proses ini, menurutnya, adalah hal yang wajar dilakukan oleh seorang aktor untuk memperkaya interpretasinya terhadap sebuah peran.

"(Pendalaman karakternya) Based on script, eh hasil elaborasi dan juga terinspirasi dari beberapa adegan karena memang sebelumnya ada adegan film-film lain," ujar Guilio Parengkuan.

"Karena kan kita biasa gitu ya ngambil, 'Oh inspired, oh this is nice', kita nonton film apa kayaknya bisa diambil bagian ininya," sambungnya.

Giulio menggambarkan metodenya sebagai sesuatu yang 'eklektik' atau mencampuradukkan berbagai elemen.

Namun, di antara berbagai inspirasi tersebut, ia selalu berusaha untuk menyisipkan sentuhan pribadi dengan mencari alasan mendasar di balik setiap tindakan karakternya. Baginya, tidak ada karakter yang terlahir jahat atau baik secara tiba-tiba.

"Eklektik, nyampur-nyampur. Banyak. Soalnya kan, dan mungkin ada personal touch, aku selalu suka untuk masukin reasoning kenapa karakter itu melakukan hal tersebut," bebernya.

"Misalnya let's say mau karakter itu protagonis, misalnya antagonis, dia kan enggak mungkin satu hari, 'I woke up and I choose violence'. Jadi, akhirnya mencari nilai kebenarannya dari skrip itu dan akhirnya divisualisasikan," katanya.

Pada akhirnya, peran sebagai Jodas menjadi sebuah kanvas bagi Giulio untuk merealisasikan imajinasinya tentang karakter dengan kedalaman psikologis.

"Ditambah, aku sebenarnya dari dulu sudah pengin, sudah tertarik dan sudah membayangkan, membayangkan karakter seperti Jodas dengan sentuhan-sentuhan psychology itu dan jadi udah kebayang lah mau kayak gimana," tandas Guilio Parengkuan.