JAKARTA - Aktris Dinda Kanya Dewi kembali menjajal peran antagonis dalam film terbarunya yang berjudul Kitab Sijjin dan Illiyin. Memerankan karakter bernama Laras, Dinda tidak ingin menampilkan sosok jahat yang datar, melainkan menggali lapisan emosi yang kompleks di balik tindakan karakternya.
“Sisi apa yang akan aku tampilkan di peran aku sebagai Laras ini di Kitab Sijjin dan Illiyin, walaupun memang bisa dibilang antagonis juga atau jahat juga, mungkin lebih ke layer emosinya dia ya,” ujar Dinda Kanya Dewi kepada VOI, belum lama ini.
Menurut Dinda, film ini akan memaparkan alasan di balik amarah dan sifat dominan Laras, yang membuatnya menjadi abusive terhadap adiknya. Hal ini yang menurutnya menjadi daya tarik dari karakter tersebut, sebuah siklus dari korban menjadi pelaku, dan kembali menjadi korban.
“Maksudnya kita juga bisa melihat kenapa Laras bisa sebegitu marahnya, sebegitu abusive-nya ke adiknya, kenapa dia begitu dominan gitu, apa yang menyakitkan hatinya tuh lumayan dipaparkan juga di film ini. Jadi menariknya itu gitu. Jadi dia dari dari pelaku, eh korban menjadi pelaku lalu menjadi korban lagi gitu loh. Karena pada akhirnya pun dia ya dia berjuang juga untuk tetap melindungi keluarganya gitu,” lanjutnya.
Mendalami peran sebagai Laras memberikan dua pelajaran emosional yang mendalam bagi Dinda. Pertama, ia menyadari betapa merusaknya amarah yang terus disimpan dan tidak perlu didengarkan.
“Mungkin kalau aku ya ada dua ya (yang menyentil emosional dari film ini). Satu, bahwa amarah itu adalah hal yang yang tidak perlu kita dengarkan gitu. Maksudnya sangat disayangkan kalau misalnya hidup penuh dengan amarah karena itu justru akan melelahkan gitu. Jadi untuk menyimpan amarah buatku adalah sesuatu yang sepertinya memang aku nggak pengin kayak Laras gitu. Karena memang capek banget jadi Laras tuh dia hidup dengan dendam, marah, tak memaafkan gitu. Jadi buat aku mungkin kalau untuk menemukan kedamaian ya harus itu harus dirilis gitu perasaan-perasaan itu,” ungkap Dinda.
Pelajaran kedua yang ia petik adalah tentang konsep tabur tuai. Dinda meyakini bahwa setiap perbuatan akan mendapatkan balasan, yang dampaknya tidak hanya dirasakan oleh diri sendiri, tetapi juga bisa berimbas pada keluarga.
“Sama yang kedua lebih ke bahwa terkadang em ya kita sadar betul adanya konsep tabur tuai ya. Apa yang kita lakukan sekarang pasti akan ada balasannya gitu, termasuk sama apa yang kita lakukan sekarang mungkin balasannya bukan belum tentu langsung ke kita, tapi bisa ke keluarga kita, anak kita atau siapapun gitu,” jelasnya.
Hal ini, menurutnya, sangat relevan dengan kisah Laras, di mana penderitaan yang dialaminya merupakan dampak dari perbuatan orang tuanya di masa lalu.
“Sama seperti Laras gitu, apa yang Laras alami, semua penderitaan yang dia alami kan sebenarnya bukan karena bukan karena dirinya yang yang yang yang berbuat gitu, tapi itu karena impact masa lalu yang dilakukan oleh orang tuanya gitu. Jadi harus lebih berhati-hati lah untuk bersikap,” sambungnya.
BACA JUGA:
Trauma Tak Membuat Orang Lebih Kuat
Aktris Dinda Kanya Dewi mengungkapkan sebuah sisi personal yang kontras dengan karakter Laras yang ia perankan, yang tumbuh dengan trauma masa kecil. Dinda justru mengaku memiliki masa kecil yang indah dan baru merasakan trauma saat beranjak dewasa, sebuah pengalaman yang tidak pernah ia persiapkan.
“Oke, kalau Laras dia tumbuh dengan trauma, apakah aku juga punya trauma? Sepertinya kalau dari masa kecil sih aku tidak punya sama sekali gitu. Justru masa kecilku adalah masa terindah dalam hidupku menurutku gitu. Eh orang tuaku masih lengkap, masih ada gitu dan eh jadi kalau dibilang trauma masa kecil sih aku sama sekali tidak tidak tidak punya. Justru trauma itu ada ketika sudah dewasa gitu. Sesuatu yang tidak aku persiapkan, ternyata aku, aku pikir aku siap, ternyata aku tidak siap gitu,” kata Dinda Kanya Dewi.
Fase trauma itu, menurut Dinda, datang ketika ia harus menghadapi kehilangan kedua orang tuanya. Momen tersebut menjadi titik balik yang membuatnya merasa tidak bisa berfungsi secara normal.
“Jadi ada rasa ketakutan dan mungkin aku sempat masuk ke fase trauma tuh ada ketika aku dewasa justru. Jadi ketika kehilangan dua orang tuaku itu yang lumayan lumayan kayak, "Ah, ini apa ini trauma ya?" gitu. Kayak misalnya aku jadi tidak bisa eh berfungsi secara normal, aku menjauhkan orang-orang karena aku selalu merasa lebih baik tidak tidak tidak memiliki daripada merasakan kehilangan lagi,” ceritanya.
Dinda dengan tegas menolak anggapan bahwa trauma bisa membuat seseorang menjadi lebih kuat. Baginya, trauma justru berpotensi menjatuhkan dan membawa seseorang ke jalan yang salah.
“Maksudnya itu mungkin si traumanya yang yang menggerogoti, tapi ya masih, masih berproses cuman aku sudah sadar betul bahwa ya sakit dan trauma itu adalah hal yang harusnya aku bedakan gitu loh. Aku nggak percaya kalau dibilang trauma itu membuat kamu kuat, nggak, nggak, bukan. Bukan, trauma akan membuat kamu membuat kamu makin makin jatuh gitu loh. Makin salah lah, salah jalan lah gitu,” lanjut Dinda.
Salah satu pengaruh besar dari trauma yang ia rasakan adalah munculnya rasa sakit yang sulit dijelaskan sumbernya. Kini, ia belajar untuk lebih sadar dan mengidentifikasi setiap rasa sakit yang muncul.
“(Pengaruh dari trauma itu) Maksudnya kadang-kadang kamu jadi kayak merasakan sakit, pengaruh besar trauma ya, merasa kamu merasakan sakit tapi kamu tidak bisa menjelaskan rasa sakitnya itu dari mana gitu. Nah sampai akhirnya kalau sekarang aku lebih lebih ke mengidentifikasi rasa sakit yang aku rasakan gitu,” ungkapnya.
Dengan mengidentifikasi rasa sakit, ia berharap emosi tersebut tidak mengendap dan meledak di waktu yang tidak terduga. “Jadi supaya itu tidak mengendap dan sampai akhirnya aku kadang suka keluar nggak tahu kalau itu dari mana gitu. Jadi kalau aku lagi ngerasain sesuatu ya aku lebih aware aja dengan rasa sakit itu gitu. Kalau misalnya sebelum-sebelumnya mungkin rasa sakitnya aku pendam, tapi lama-lama bisa keluarnya di hal-hal yang tidak diduga gitu loh,” sambungnya.
Dinda kemudian membagikan caranya untuk berdamai dengan trauma. Kuncinya adalah dengan tidak membatasi diri untuk merasakan dan mengeluarkan emosi, serta mengidentifikasi rasa sakit yang ada.
“Cara berdamai dengan rasa trauma. Tidak membatasi sih, tidak membatasi kita untuk itu. Dia buat aku satu, mengidentifikasi rasa sakit sama mengeluarkan perasaan gitu. Ketika pengin nangis ya nangis aja gitu. Jangan, nggak usah ditahan, nggak usah kayak tiba-tiba kayak nangis kayak, ‘Nggak, gua nggak boleh nangis, gua harus kuat, gua harus melupakan’. Nggak, kalau emang pengin nangis ya nangis aja gitu. Kalau emang pengin marah ya marah, kalau lagi pengin sedih ya sedih aja gitu. Nggak apa-apa,” tutur Dinda.
Baginya, proses ini adalah bentuk menyayangi diri sendiri dengan cara menyadari dan menerima setiap rasa sakit yang pernah ada. Ketika semua upaya terasa sudah maksimal, ia menyerahkan segalanya kepada Tuhan.
“Jadi memang lebih lebih sayang aja sih sama sama dirinya sendiri dan yang itu yang tadi aku bilang salah satu caranya adalah kau harus tahu kalau misalnya itu lebih lebih sadar sama rasa sakit yang pernah yang ada itu loh, gitu. Itu aja. Jadi nggak apa-apa kok, nggak apa-apa untuk merasakan merasakan itu semua dan ya udah, kalau emang udah mentok misalnya kamu nggak bisa, ya ingat Tuhan aja sih. Udah itu paling terakhir gitu kayak, ingat Tuhan ya udah semua udah ada yang ngatur, udah ini ya. Ya udah gitu. Jalanin aja. Just keep on swimming kalau kata Dori di Finding Nemo,” tandasnya.