JAKARTA - Donny Damara bisa disebut sebagai salah satu aktor di usia 50-an yang aktif dalam berakting. Memerankan lebih dari 20 peran, ia mengakui selalu merasa gelisah dalam keaktoran.
Kegelisahan itu dituangkan dengan memainkan beragam peran dan terus mengeksplorasi perannya. Tahun ini, ia memulai aktingnya dengan berperan sebagai Beni dalam film Ketindihan. Film ini menjadi salah satu dari enam film yang direncanakan tayang tahun ini.
“Saya enggak pernah memerankan sebagai coach tenis atau sebagainya tapi ini hal baru sebagai coach, jadi hubungan kekeluargaan dan kekerabatan antara bapak, istri, anak-anak harus saya bikin beda meskipun saya pernah di situ,” kata Donny Damara kepada VOI beberapa waktu lalu.
“Memerankan di situ tapi sedikit beda tapi itu tugas aktor supaya tidak stereotipe untuk mendeliver keaktorannya, perannya jadi orang tidak berpikir ‘Aduh sama seperti A, B, C!” katanya.
Bicara produktif, aktor kelahiran 12 Oktober itu beranggapan seorang aktor harus memiliki rasa gelisah dalam mengembangkan dan ingin tahu. Berakting sejak tahun 1988, Donny Damara merasa tidak mudah untuk memilih peran dalam perfilman Indonesia.
“Eksplorasi, rasa kegelisahan, pertanyaan-pertanyaan itu harus dimiliki seseorang terutama dimiliki seseorang entrepreneur, aktor, harus gelisah terus harus selalu ingin tahu, mencoba sesuatu yang lain,” tuturnya.
“Kalau enggak, dia akan mati keaktorannya. Terus kalau tadi pertanyaann lebih mudah, enggak juga. Saya jadi coach tennis, saya bukan petenis profesional tapi coaching seseorang jadi atlet yang baik dan benar sesuai dengan tahapan dan sikon saya belum pernah dan itu yang saya harus gali,” kata Donny lagi.
“Bagaimana seorang ayah yang berjarak berkomunikasi dengan keluarga, saya harus menggali itu seperti apa. Seperti apa sih jaraknya. Jadi ada kegelisahan dan habis ini apa lagi, ini digimanain ya perannya,” lanjutnya.
Melintasi Dua Dekade Akting
Berakting lebih dari 20 tahun menciptakan persona yang tidak jauh dari karakter di film. Ia memandang pembuatan film di masa lalu dengan masa sekarang tidak jauh berbeda. Ia justru merasa film di era sekarang tidak seromansa film-film di masa lampau.
“Tahun ‘98, lebih ada pergeseran dari cerita, teknikal apalagi. Kalau dari cerita, dari cara berbahasa, cara men-deliver juga beda. Dulu lebih puitis, lebih roman, sekarang bahasa lebih lugas, anak-anak ngomong lebih luas, orang tua juga ngomong lebih lugas. Kalau enggak, generasi yang berkembang sekarang tidak mau berpikir ini mesti apa,” jelas Donny Damara.
“Menurut saya mereka juga gengsi bahwa kamu senang digituin cuma denger gitu apaan sih tapi seneng digituin (soal romansa). Kita waktu dulu dan sekarang, cerita sekarang amat sangat luas, semuanya luas,” lanjutnya.
“Saya terus ingin mengeksplor seperti ini, tapi jangan coba. Begitu menentukan aku ingin ambil peran ini, komit dengan itu, dengan segala macam studi riset, apa sih latar belakang tokoh ini jadi kalau dibilang milih-milih juga enggak, ntar rejeki juga milih-milih,” kata Donny sambil tertawa.
Di sisi lain, ia sering memainkan peran seorang Bapak, peran yang banyak dimainkan mengingat usianya yang tidak lagi muda. Donny Damara berterima kasih masih dipercaya untuk mendalami berbagai peran tidak hanya seorang bapak. Menurutnya, ia malah tertantang membedakan peran seorang Bapak di era sekarang ini.
“Saya belum pernah jadi Aki Kholil (perannya dalam film Guna Guna Istri Muda), saya belum pernah jadi ya itu lah maksudnya di seumuran saya pasti teman-teman kesempatan untuk menjadi bukan Bapak sangat kecil,” kata Donny Damara.
“Tugas kita ya untuk bedain, bapaknya seperti apa. Bapak yang baik itu gampang, yang susah itu berperan jadi bapak yang asik. Bapak yang baik gampang, bapak yang asik dan bapak yang gak baik juga susah. Bukan contoh bapak yang baik dan asik,” katanya.
“Manusia kan dasarnya jahat, jadi lebih gampang jadi orang jahat daripada menurut saya jadi orang baik. Jadi orang baik, ya tulus atau mengekspresikan deliver bahasanya gak full out, kelihatan dia pura-pura tapi begitu menjadi orang jahat, tapi jadi orang jahat gak harus teriak. Itu yang jadi pembedanya, gak harus melotot. Itu yang harus didalami,” tegasnya.
Apa pernah mengalami kejenuhan dalam berakting? Peraih Aktor Terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2012 itu merasa jika seorang aktor mengalami jenuh atau pensiun, maka hal itu menandakan kematian dalam berakting.
BACA JUGA:
“Jangan sampai begitu caranya gimana? Ya sudah mau baca kek, mau bertanya, mau eksplor kek, mau apa pasti ada jalan keluarnya tapi begitu dia merasa jenuh, dia mati,” lanjut Donny Damara.
Mengakhiri perbincangan siang itu, Donny Damara mengungkap ia masih banyak memiliki peran impian dalam film. “Misalnya film-film psycho yang family man tapi pembunuh hahahaha. Ya ya begitu cuma tidak tahu bisa begitu juga menarik,” tutup Donny Damara.